JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi global setelah mengunggah pernyataan yang menyebut dirinya sebagai Presiden Sementara Venezuela mulai Januari 2026. Klaim tersebut disampaikan melalui akun media sosial pribadinya dan langsung menyita perhatian publik internasional.
Dalam unggahan itu, Trump menampilkan foto resmi dirinya disertai keterangan jabatan sebagai Acting President of Venezuela. Ia juga menuliskan status “Incumbent January 2026”, yang menimbulkan spekulasi luas terkait arah kebijakan Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi politik yang meningkat tajam di kawasan Amerika Latin. Hubungan Amerika Serikat dan Venezuela memang telah lama berada dalam ketegangan, terutama terkait isu pemerintahan, sanksi ekonomi, dan legitimasi kekuasaan.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengambil peran aktif dalam mengelola pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu. Langkah ini disebut sebagai upaya stabilisasi hingga kondisi politik di negara tersebut dianggap memungkinkan untuk transisi kekuasaan yang baru.
Meski demikian, klaim Trump tersebut tidak disertai dengan pengumuman resmi dari lembaga internasional atau pengakuan formal dari institusi negara Venezuela. Secara hukum dan politik, posisi kepemimpinan di Venezuela masih menjadi perdebatan di tingkat global.
Di sisi lain, pemerintah Venezuela menyatakan tetap menjalankan roda pemerintahan berdasarkan konstitusi nasional. Otoritas setempat menegaskan bahwa kedaulatan negara tidak dapat ditentukan oleh pernyataan sepihak dari pihak luar.
Langkah Trump ini memicu reaksi beragam dari komunitas internasional. Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk tekanan politik ekstrem, sementara yang lain melihatnya sebagai strategi komunikasi politik yang provokatif.
Pengamat menilai klaim sepihak melalui media sosial berpotensi memperkeruh situasi geopolitik. Media sosial kini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana pembentukan narasi kekuasaan di tingkat global.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana konflik politik modern tidak hanya berlangsung di meja diplomasi, tetapi juga di ruang digital yang dapat diakses publik secara luas dan cepat.
Hingga kini, belum ada kejelasan apakah klaim Trump tersebut akan berlanjut ke kebijakan konkret atau berhenti sebagai pernyataan simbolik yang memicu polemik global.














