JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanggil para pimpinan perusahaan minyak terbesar AS ke Gedung Putih untuk membahas peluang investasi energi di Venezuela. Langkah ini menegaskan keseriusan Washington mengamankan sumber daya strategis di negara Amerika Latin tersebut.
Venezuela selama ini dikenal sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, perhatian pemerintahan Trump tidak berhenti pada minyak mentah semata.
Sejumlah analis menyebut Venezuela juga menyimpan potensi cadangan mineral, logam, hingga unsur tanah jarang yang belum sepenuhnya terverifikasi. Komoditas ini dinilai penting bagi industri teknologi dan pertahanan AS.
Kebutuhan terhadap mineral strategis semakin meningkat seiring persaingan global dan ketergantungan rantai pasok internasional. Pemerintah AS menempatkan sumber daya alam sebagai bagian dari kepentingan keamanan nasional.
Meski demikian, para ahli menilai upaya mengakses kekayaan tambang Venezuela tidak mudah. Ketidakpastian data cadangan dan kelayakan ekonomi menjadi tantangan utama.
Selain itu, risiko keamanan juga membayangi. Banyak wilayah kaya mineral di Venezuela dikuasai kelompok bersenjata dan aktivitas tambang ilegal.
Dari sisi lingkungan, penambangan unsur tanah jarang membutuhkan energi besar dan berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis. Faktor ini turut memengaruhi pertimbangan investasi jangka panjang.
Direktur penelitian Atlantic Council Global Energy Center, Reed Blakemore, menilai pemerintah AS menyadari potensi sumber daya Venezuela di luar minyak. Namun, realisasi eksploitasi dinilai jauh lebih kompleks.
Ia menegaskan bahwa menambang hanyalah tahap awal. Proses pemurnian mineral, yang selama ini banyak dilakukan di China, menjadi tantangan lanjutan bagi AS.
Sebagai catatan, Survei Geologi AS telah menetapkan 60 mineral penting bagi keamanan ekonomi dan nasional, termasuk aluminium, kobalt, nikel, hingga unsur tanah jarang yang krusial bagi teknologi dan militer.














