JAKARTA, Cobisnis.com – Harga cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, kembali normal setelah sempat melonjak tajam selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Kondisi ini memberi napas lega bagi pedagang dan konsumen di awal tahun.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga cabai yang sempat menyentuh Rp70.000 per kilogram kini turun signifikan ke kisaran Rp37.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Penurunan terjadi seiring berakhirnya lonjakan permintaan pasca libur panjang.
Pedagang menyebut, selama puncak Nataru permintaan cabai meningkat tajam, sementara pasokan dari daerah penghasil tersendat akibat faktor cuaca dan distribusi. Kondisi itu mendorong harga naik dalam waktu singkat.
Memasuki awal Januari 2026, arus distribusi cabai kembali lancar. Pasokan dari sentra produksi di Jawa dan Sumatera mulai stabil, sehingga tekanan harga perlahan mereda di tingkat pedagang besar.
Normalisasi harga ini berdampak langsung pada aktivitas jual beli di pasar induk. Pembeli yang sebelumnya menahan belanja kini kembali membeli dalam jumlah lebih banyak untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner.
Pedagang menilai turunnya harga cabai membantu menjaga daya beli masyarakat, terutama setelah pengeluaran tinggi selama libur akhir tahun. Stabilitas harga juga dinilai penting untuk menjaga ritme perdagangan di pasar induk.
Dari sisi ekonomi, fluktuasi harga cabai menjadi indikator sensitif inflasi pangan. Penurunan harga pasca Nataru memberi sinyal positif bagi pengendalian harga kebutuhan pokok di awal tahun.
Kondisi ini juga mencerminkan pentingnya kelancaran rantai pasok pangan nasional. Distribusi yang stabil terbukti mampu meredam gejolak harga meski permintaan sempat melonjak.
Pedagang berharap harga cabai tetap terjaga dalam beberapa pekan ke depan. Cuaca yang relatif lebih bersahabat dan distribusi yang lancar dinilai menjadi faktor kunci menjaga stabilitas.
Dengan harga yang kembali normal, Pasar Induk Kramat Jati diharapkan terus berperan sebagai barometer harga pangan nasional, sekaligus menjaga keseimbangan antara produsen, pedagang, dan konsumen.














