JAKARTA, Cobisnis.com – Konsistensi masih menjadi tantangan utama bagi banyak orang yang ingin menguasai bahasa Inggris. Niat belajar sering kali besar di awal, namun perlahan hilang karena metode yang terlalu berat dan target yang tidak realistis.
Di tengah kebutuhan global yang makin tinggi, kemampuan bahasa Inggris kini bukan hanya soal akademik, tetapi juga berpengaruh pada peluang kerja dan mobilitas sosial. Data World Economic Forum menunjukkan bahasa Inggris masih menjadi bahasa utama dalam komunikasi bisnis internasional.
Salah satu penyebab utama gagalnya konsistensi adalah target yang terlalu tinggi. Banyak orang langsung menargetkan fasih, padahal kebiasaan kecil yang dilakukan rutin justru lebih efektif dalam jangka panjang.
Belajar 10–15 menit per hari dinilai lebih berdampak dibanding belajar berjam-jam namun tidak berkelanjutan. Pola ini sejalan dengan konsep microlearning yang banyak diterapkan dalam sistem pendidikan modern.
Penentuan waktu belajar juga berperan penting. Belajar di jam yang sama setiap hari membantu membentuk kebiasaan dan memudahkan otak mengenali pola aktivitas.
Fokus materi menjadi faktor lain yang sering diabaikan. Mencampur grammar, listening, speaking, dan vocabulary sekaligus justru membuat proses belajar terasa berat dan tidak terarah.
Integrasi bahasa Inggris ke aktivitas harian terbukti membantu konsistensi. Mengganti bahasa ponsel, menonton konten berbahasa Inggris, atau mendengarkan podcast ringan bisa menjadi alternatif belajar tanpa tekanan.
Rasa takut salah juga menjadi penghambat terbesar. Banyak pelajar berhenti karena merasa kemampuan mereka belum sempurna, padahal kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran bahasa.
Mencatat progres kecil seperti kosakata baru atau durasi belajar harian dapat meningkatkan motivasi. Bukti perkembangan, sekecil apa pun, membantu menjaga semangat belajar.
Fenomena ini mencerminkan bahwa tantangan belajar bahasa Inggris bukan terletak pada akses, melainkan pada pola belajar dan disiplin personal. Konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun kemampuan bahasa jangka panjang.
Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan realistis, belajar bahasa Inggris bisa menjadi kebiasaan, bukan beban.














