JAKARTA, Cobisnis.com – Wicked: For Good kembali menyajikan kisah penuh musik dan persahabatan, namun kali ini lapisan politiknya tampil lebih kuat dibanding film pertamanya. Jika sebelumnya isu ras dan diskriminasi menjadi latar utama, sekuel ini menyentuh tema panas lain: imigrasi.
Film ini menyoroti bagaimana kelompok tertentu dianggap “lain” dan dijadikan musuh bersama, mulai dari hewan-hewan Oz yang kehilangan hak bicara hingga Munchkin yang dibatasi pergerakannya oleh kebijakan baru. Adegan ketika Boq tiba di stasiun dan menemukan bahwa Munchkin membutuhkan izin untuk bepergian menjadi cerminan nyata dari kebijakan pengetatan imigrasi di dunia nyata, yang pernah memicu ketakutan dan operasi besar-besaran di bawah pemerintahan Trump.
Hubungan Elphaba dan Glinda kembali diuji saat keduanya menemukan bagaimana Sang Wizard memanipulasi narasi publik melalui propaganda, memberi label “wicked witch” pada Elphaba. Film ini menampilkan bagaimana kekuasaan informasi dapat membentuk kebenaran versi penguasa, topik yang terasa relevan dalam dinamika sosial dan politik saat ini.
Elemen-elemen politik dalam Wicked: For Good diperkuat oleh ruang penceritaan yang lebih luas dibanding musikal Broadway-nya. Adegan hewan yang dikurung di bawah istana hingga terowongan pelarian di bawah Yellow Brick Road menjadi simbol kuat penindasan dan kontrol.
Meski film fantasi sering dianggap sebagai hiburan pelarian, Wicked: For Good membuktikan bahwa kisah dari dunia Oz tetap mampu memicu diskusi tentang isu serius yang memengaruhi masyarakat. Bersanding dengan film-film politis lain di musim penghargaan seperti One Battle After Another dan A House of Dynamite, karya ini menegaskan bahwa fantasi dapat menjadi cermin tajam bagi realitas.














