• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Saturday, August 29, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Ekonomi Bisnis

Laporan Doing Good Index 2024: Digitalisasi Sektor Sosial Pesat, tapi Rentan Serangan Siber

Saeful Imam by Saeful Imam
July 4, 2024
in Ekonomi Bisnis
0
Laporan Doing Good Index 2024:  Digitalisasi Sektor Sosial Pesat, tapi Rentan Serangan Siber

JAKARTA, COBISNIS.COM – Ditengah pesatnya digitalisasi sektor sosial di Asia, termasuk di Indonesia, organisasi sosial (orsos) rentan terhadap ancaman siber.

Kerentanan ini menjadi salah satu indikator ketidaksiapan sektor ini menghadapi era digital.

Mereka kesulitan untuk mengikuti perubahan teknologi informasi karena minimnya akses terhadap infrastruktur digital, rendahnya kapasitas pengelola, serta kurangnya dukungan donor dan kebijakan pemerintah.

Kondisi ini menghambat kemampuan sektor sosial dalam memberikan produk dan layanan kepada masyarakat dengan memanfaatkan teknologi digital.

Temuan-temuan kunci ini mengemuka dalam acara peluncuran sekaligus diskusi publik Laporan Doing Good Index (DGI) 2024 yang digelar PIRAC bekerjasama dengan Yayasan Penabulu, Co-Evolve II, Dompet Dhuafa dan Human Initiative di Jakarta, Kamis siang (4/7).

Doing Good Index atau Indeks Berbuat Baik merupakan kajian 2 tahunan yang menggambarkan peta kebijakan, praktik institusi, dan lanskap sektor sosial di 17 negara Asia, termasuk di Indonesia. DGI mengkaji 4 (empat) sub indeks yang dinilai bisa memperkuat atau melemahkan inisiatif sosial, yaitu: peraturan perundang-undangan, kebijakan pajak dan fiskal, kebijakan procurement (pengadaan barang dan jasa), serta ekosistem sektor sosial.

Selain komponen di atas, DGI 2024 juga secara khusus mengkaji digitalisasi sektor sosial.

Kajian 2 tahunan yang dikoordinir oleh Centre for Asian Philanthropy and Society (CAPS) melibatkan 2.183 organisasi sebagai responden dan 140 panel ahli. Pelaksanaan riset DGI 2024 di Indonesia dilakukan berkolaborasi dengan PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) dan melibatkan 202 organisasi dan 11 pakar.

Annelotte Walsh, Ph.D., Direktur Penelitian CAPS, menjelaskan 95% organisasi sosial di Asia sudah memanfaatkan teknologi digital untuk memberikan layanan kepada penerima manfaatnya.

Tiga cara utama yang banyak digunakan untuk memberikan layanan adalah telepon (69%), pesan instan (63%), dan video panggilan (57%). Laporan itu juga menyebut Filipina, Indonesia dan Malaysia sebagai 3
negara yang organisasi sosialnya tertinggi dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menggelar acara atau rapat virtual. Selain itu, Orsos di asia memanfaat teknologi digital untuk penyusunan laporan keuangan (80%), penyimpanan data keuangan (90%), dan penyimpanan jenis data lainnya,
seperti data donor, proyek, penerima manfaat (75%).

Penggunaan alat digital untuk tugas administratif, penjangkauan komunitas, dan penggalangan dana juga semakin populer.

Namun, Annelotte menambahkan, Orsos di Asia kekurangan sumber daya yang diperlukan untuk mendayagunakan sepenuhnya manfaat teknologi digital. Laporan DGI 2024 mengungkap minimnya dukungan pendanaan dan investasi terhadap orsos dalam mengembangkan teknologi digital untuk operasional organisasi maupun pelaksanaan program dan layanannya.

Padahal, dukungan pendanaan tersebut sangat penting bagi organisasi untuk merespons lanskap digital yang berubah dengan cepat.

Sayangnya, Hampir setengah dari organisasi di asia melaporkan bahwa donor mereka tidak mendanai biaya teknologi digital.
“Minimnya dukungan ini membuat sektor sosial di Asia tidak siap menghadapi perubahan teknologi di tengah pesatnya digitalisasi di kawasan ini.

Kami percaya sektor swasta maupun filantropi dapat
1Dalam Kajian Doing Good Index disebut SDO (Service Delivery Organization) memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan teknologi digital bagi sektor sosial.

Donor harus menyadari bahwa tantangan dalam mendapatkan pendanaan tersebut menghalangi organisasi yang mereka dukung untuk berinvestasi dalam teknologi digital yang dapat meningkatkan produktivitas dan dampaknya. Dukungan pendanaan operasional serta donasi dalam bentuk keahlian dan perangkat digital dapat membantu organisasi-organisasi sosial berinvestasi dalam pengembangan kapasitas untuk sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital guna memenuhi misi mereka dalam membantu masyarakat,” katanya.

Hamid Abidin, Peneliti PIRAC, menyatakan bahwa sektor sosial di Indonesia juga mengalami digitalisasi secara pesat, seperti halnya di Asia. Laporan DGI 2024 mengungkapkan bahwa pengelola orsos di Indonesia memiliki akses internet yang andal dan cepat di tempat kerja mereka (75%) dan menggunakan perangkat komputer/tablet (69%). Orsos di Indonesia juga sudah mempromosikan profil dan karyanya di website (74%), media sosial (94%), serta bulletin digital (53%).

Mereka juga meningkatkan penggunaan teknologi digital untuk memberikan layanan secara online (55%), mengintegrasikannya dengan operasional organisasi (57%), mengembangkan kolaborasi (69%) dan memanfaatkan media sosial untuk promosi dan diseminasi informasi (75%).

Sebagian besar organisasi (98%) melakukannya dengan menggunakan basic software dan hanya 43% yang menggunakan advance software.

Seperti kasus serangan siber ke Pusat Data Nasional, serangan siber juga menyasar sektor sosial di Indonesia.

Laporan DGI 2024 mengungkapkan bahwa sebagian besar (66%) organisasi yang disurvei mengalami serangan keamanan siber dalam 2 tahun terakhir. Kondisi mereka lebih rentan karena masih sedikit organisasi (31%) yang memiliki rencana keamanan siber (Cybersecurity plans).

Selain itu, masih sedikit organisasi melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengantisipasi dan menghadapi serangan siber tersebut dalam bentuk penggunaan Anti-virus/spyware/malware software (47%), pelatihan staf (32%), atau menyewa konsultan/vendor (12%).

“Meski sudah sering menjadi korban serangan siber, nampaknya kesadaran pengurus atau staf orsos terhadap keamanan siber masih rendah. Terbukti belum banyak orsos yang mengalokasikan sumber daya untuk mengantisipasi hal tersebut.

Minimnya sumber dana dan keahlian membuat mereka pasif dan pasrah
menerima resikonya”. kata Hamid.

Mengacu pada Laporan DGI 2024, Hamid mencatat ada 3 tantangan utama yang dihadapi orsos dalam pemanfaatan teknologi digital, termasuk dalam menghadapi serangan siber, yakni dana yang terbatas (71%), rendahnya keahlian staf (57%), serta minimnya dukungan dari donatur (51%). “Karena itu, kita perlu menyadarkan dan mendorong sektor swast, filantropi maupun pemerintah untuk membantu mengatasi tantangan dihadapi Orsos dalam melakukan digitalisasi terhadap operasional dan
layanannya.

Dukungan bisa diberikan dalam bentuk donasi perangkat keras dan software,
peningkatan kapasitas staf Orsos, konektivitas internet yang lebih baik, serta menyiapkan organisasi
mereka menghadapi serangan siber. Selain memperkuat profesionalisme dan efektivitas kerja orsos,
dukungan ini juga membuat masyarakat sebagai penerima manfaat bisa terlayani dengan baik”
katanya.
Sementara Riza Imaduddin Abdali, Koordinator Aliansi Filantropi untuk Akuntabilitas Sumbangan,
menyoroti beberapa kebijakan terkait filantropi dan inisiatif sosial yang sudah usang dan tidak bisa
merespon perkembangan digitalisasi sektor sosial dan filantropi. Ia mencontohkan kegiatan
penggalangan donasi yang sebagian besar dilakukan secara digital menjadi terhambat dan tidak bisa
dikembangkan secara optimal karena diatur oleh regulasi yang sudah usang, yakni Undang-undang
Nomor 9 tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang (PUB). Menurutnya, pemerintah tidak
punya kesadaran dan sense of urgency untuk merevisi regulasi ini, padahal filantropi tengah
berkembang pesat di Indonesia. Kegiatan penggalangan dan penyaluran donasi juga kerap dilakukan
penanggulangan bencana yang terjadi hampir sepanjang tahun. Riza mendesak agar regulasi ini segera
direvisi agar bisa mendorong kemajuan sektor filantropi, khususnya dalam penggalangan donasi. “Kita
tidak bisa bicara tentang pengembangan filantropi digital atau ancaman siber terhadap sektor sosial
dan filantropi, sementara kerangka hukumnya sudah usang dan sulit untuk diterapkan,” katanya.

Free Download WordPress Themes
Free Download WordPress Themes
Download Nulled WordPress Themes
Download Premium WordPress Themes Free
udemy free download
download karbonn firmware
Free Download WordPress Themes
download udemy paid course for free
Tags: DGIdoing good index

Related Posts

No Content Available
Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Purbaya Siapkan Rp20,5 Triliun untuk 490 Daerah yang Tertekan Fiskal

Purbaya Ungkap Alasan Pakai Xpeng X9, Dukung Program Pengurangan BBM

August 28, 2026
BEI Resmi Luncurkan Saham Hijau dan Tiga Emiten Jadi yang Pertama

BEI Resmi Luncurkan Saham Hijau dan Tiga Emiten Jadi yang Pertama

August 28, 2026
Harga Ayam Capai Rp38 Ribu, Cabai Merah Ikut Naik di Jakarta

Harga Ayam Capai Rp38 Ribu, Cabai Merah Ikut Naik di Jakarta

August 28, 2026
FSPPB

FSPPB Soroti Peran PDSI sebagai Pilar Kapabilitas Pengeboran Nasional

August 28, 2026
Donald Trump

Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz

August 29, 2026
The Jakmania

Jakmania Protes Tiket Persija, Klub Beri Jawaban

August 29, 2026
Prabowo Pilih TAP MPR untuk Atur PPHN, Kata Muzani

Prabowo Pilih TAP MPR untuk Atur PPHN, Kata Muzani

August 28, 2026
Dua Kematian Akibat Campak di Pennsylvania Picu Perang Pernyataan Politik

Kerajaan Bisnis Dolly Parton Tumbuh dari Appalachia dan Dollywood

August 28, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved