JAKARTA, Cobisnis.com – Sebagian orang mengalami napas terengah-engah setelah menaiki tangga, meski aktivitas tersebut tampak ringan. Hal ini terjadi karena tubuh membutuhkan energi dan pasokan oksigen lebih besar dibandingkan saat berjalan di permukaan datar.
Dokter keluarga dan kedokteran olahraga dari University of Louisville Health, dr. Katherine Pohlgeers, mengatakan bahwa napas yang menjadi lebih cepat setelah aktivitas tersebut dapat merupakan reaksi normal tubuh.
“Karena ada peningkatan tuntutan pada tubuh, ada peningkatan kerja, ada peningkatan kebutuhan oksigen dan kebutuhan ventilasi,” kata Pohlgeers, disadur dari HuffPost, dikutip Rabu (21/10/2026).
Karl Erickson, spesialis performa di Mayo Clinic Sports Medicine, menjelaskan bahwa menaiki tangga membuat otot bekerja lebih keras. Pasalnya, tubuh harus mengangkat berat badannya sendiri pada setiap anak tangga.
“Pada dasarnya kamu mengangkat tubuhmu. Kamu (seperti) melakukan squat atau lunge saat menaiki tangga, jadi jelas lebih melelahkan daripada sekadar berjalan,” terang Erickson.
Seberapa cepat seseorang terengah-engah turut dipengaruhi oleh intensitas gerakan. Berlari menaiki tangga atau membawa barang berat, misalnya, dapat meningkatkan kebutuhan tenaga dibandingkan berjalan dengan kecepatan santai.
Tanda Sesak Napas yang Tidak Boleh Diabaikan
Meski dapat terjadi secara normal, sesak napas perlu diperhatikan apabila muncul untuk pertama kalinya atau semakin parah dibandingkan biasanya. Pohlgeers menyarankan pemeriksaan medis jika seseorang mengalami perubahan kondisi tersebut.
“Yang terpenting adalah jangan langsung berpikir, ‘Ya ampun, saya akan mati,’ tetapi juga jangan selalu menganggapnya hanya sebagai, ‘Yah, saya kurang bugar’,” jelas Pohlgeers.
Menurutnya, penurunan kemampuan melakukan aktivitas fisik bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang perlu ditelusuri. Kondisi seperti gagal jantung, obesitas, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kebiasaan merokok, dan anemia dapat memperburuk sesak napas.
Waktu yang diperlukan hingga pernapasan kembali normal juga dapat menjadi bahan pertimbangan. Erickson menyebut napas yang masih cepat selama satu hingga dua menit setelah menaiki banyak anak tangga masih bisa tergolong wajar.
Sebaliknya, pernapasan yang tetap cepat selama lebih dari tiga menit atau berlangsung lama patut mendapat perhatian. Meski demikian, lamanya pemulihan tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai kondisi kesehatan seseorang.
Gejala lain yang menyertai sesak napas juga penting untuk dikenali. Pohlgeers menyarankan agar kondisi yang disertai nyeri dada, sakit kepala, atau perubahan penglihatan dibicarakan dengan dokter.
Apabila sesak napas terjadi secara mendadak atau berat, terlebih jika disertai nyeri dada atau sensasi hampir pingsan, segera cari pertolongan medis darurat.
Langkah Meningkatkan Stamina Saat Menaiki Tangga
Orang yang tidak memiliki gangguan kesehatan yang membatasi aktivitas fisik dapat melatih kebugaran secara perlahan. Dengan latihan rutin, tubuh bisa beradaptasi sehingga aktivitas menaiki tangga terasa lebih ringan.
“Tubuh kamu beradaptasi dengan tuntutan yang diberikan padanya. Jadi, kalau kamu berlatih menaiki tangga, kamu akan menjadi lebih efisien,” ungkapnya.
Latihan menaiki tangga dapat dilengkapi dengan gerakan squat dan lunge untuk memperkuat otot yang digunakan saat mengangkat tubuh. Berjalan kaki, berkebun, serta melakukan pekerjaan rumah juga bisa menjadi bagian dari aktivitas fisik sehari-hari.
Pohlgeers menekankan pentingnya meningkatkan intensitas olahraga secara bertahap dan teratur. Memaksakan diri naik turun tangga berkali-kali dalam satu sesi bukanlah cara yang disarankan untuk membangun stamina.
Bagi penderita penyakit jantung atau PPOK yang mengalami kesulitan ketika menaiki tangga, penanganan kondisi medis perlu menjadi perhatian terlebih dahulu. Latihan selanjutnya sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan fisik dan kondisi kesehatan masing-masing.













