JAKARTA, Cobisnis.com – Berlangsung pada 15-17 Oktober 2026, Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 sebagai ajang promosi dan pertemuan bisnis yang mempertemukan pelaku industri pariwisata Indonesia dengan ratusan pembeli dari berbagai pasar domestik dan internasional untuk memperluas akses pasar serta membuka peluang kemitraan baru.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan WITF menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintah dan industri dalam memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di pasar global.
“Kami sangat mengapresiasi bahwa WITF digerakkan langsung oleh industri. Tahun ini, WITF mempertemukan sekitar 250 hingga 300 _buyer_ dari 45 negara. Kami senang dapat mendukung inisiatif ini serta menantikan terjalinnya kemitraan dan peluang baru dalam perluasan promosi dan akses pasar pariwisata Indonesia melalui kegiatan ini,” kata Menpar Widiyanti melalui siaran pers yang diterima Cobisnis.com.
Menpar Widiyanti menjelaskan bahwa sektor pariwisata nasional terus menunjukkan kontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia, baik melalui peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara maupun pergerakan wisatawan nusantara yang memberikan manfaat ekonomi bagi berbagai daerah.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 10,58 juta, meningkat 5,38 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pada semester pertama 2026, sektor pariwisata juga menghasilkan devisa sebesar 8,43 miliar dolar AS atau setara dengan Rp140,95 triliun.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara hingga Agustus 2026 telah melampaui 840 juta perjalanan, tumbuh lebih dari 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan peran penting pariwisata domestik dalam menggerakkan aktivitas ekonomi, menciptakan peluang usaha, serta memperluas manfaat sektor pariwisata bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
“Pencapaian ini menunjukkan ketahanan sektor pariwisata kita,” ujar Menpar Widiyanti.
Meski demikian, Menpar menekankan bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas produk, pelayanan, dan pengalaman berwisata agar pariwisata Indonesia semakin kompetitif di tengah perubahan tren perjalanan global.
Menurutnya, wisatawan saat ini semakin mengutamakan pengalaman yang unik, autentik, dan bermakna. Pergeseran preferensi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk menghadirkan produk wisata yang memiliki karakter kuat, mengedepankan keberlanjutan, serta mencerminkan kekayaan alam dan budaya Nusantara.
Indonesia memiliki beragam potensi unggulan yang dapat menjawab kebutuhan tersebut, mulai dari wisata alam, budaya, kebugaran (wellness tourism), gastronomi, hingga wisata bahari.
Keragaman produk tersebut menjadi modal penting untuk menjangkau segmen wisatawan yang lebih luas sekaligus meningkatkan nilai tambah dari setiap kunjungan.
“Di sinilah WITF memegang peranan penting. WITF lebih dari sekadar platform promosi pariwisata. Melalui business matching, para pelaku bisnis pariwisata dapat berinteraksi langsung dengan buyer, memahami preferensi pasar, mengidentifikasi produk yang sedang diminati, dan menjajaki peluang kerja sama yang konkret,” kata Menpar.
Melalui pertemuan bisnis yang terarah, pelaku industri pariwisata Indonesia diharapkan dapat memperluas jaringan distribusi, membangun kemitraan dengan mitra potensial, serta menyesuaikan penawaran produk dengan kebutuhan wisatawan dari berbagai negara.
Menpar berharap WITF terus berkembang menjadi salah satu platform strategis yang menghubungkan industri pariwisata Indonesia dengan pasar domestik dan internasional, sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi serta produk wisata nasional.
Ia menegaskan keberhasilan pembangunan pariwisata tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan jumlah kunjungan, tetapi juga dari kualitas pengalaman wisatawan dan besarnya manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
“Tujuan kita bukanlah sekadar mendatangkan lebih banyak turis ke Indonesia, melainkan memadukan penawaran pariwisata Indonesia dengan pasar yang tepat, memberikan pengalaman pariwisata yang lebih baik, serta meningkatkan nilai ekonomi yang dihasilkan dari setiap kunjungan. Dan yang terpenting, kita ingin nilai tersebut menjangkau lebih banyak orang, mulai dari pelaku usaha pariwisata, UMKM, pekerja, hingga masyarakat di seluruh Indonesia,” kata Menpar Widiyanti.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menjelaskan Kemenpar turut memberikan dukungan langsung kepada sejumlah pelaku industri pariwisata terkurasi untuk mempromosikan produk dan paket wisata unggulan mereka melalui stan Wonderful Indonesia seluas 18 meter persegi di area B2C WITF 2026.
Pelaku industri yang mendapatkan fasilitas promosi tersebut mewakili beragam produk dan pengalaman wisata, mulai dari wisata edukasi, wisata berbasis alam dan desa, layanan perjalanan, hingga wisata kebugaran.
Industri yang berpartisipasi meliputi Wisata Sekolah (educational travel), Taman Wisata Lebah Madu Pramuka, Desa Wisata Les dari Bali yang masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, serta Desa Wisata Ketapanrame dari Jawa Timur yang masuk dalam 75 Besar ADWI 2023.
Selain itu, terdapat Gemilang Wisata Persada sebagai penyedia jasa perjalanan wisata (travel agent) dan Arum Sari Langit yang bergerak di bidang wisata kebugaran (wellness tourism).
Melalui stan Wonderful Indonesia, para pelaku industri tersebut memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan keunggulan produk, menawarkan paket perjalanan, serta berinteraksi langsung dengan calon mitra bisnis dan pengunjung pameran.
Made menilai keberagaman produk yang ditampilkan mencerminkan semakin luasnya pilihan pengalaman wisata Indonesia, sekaligus memperlihatkan kemampuan industri nasional dalam menjawab kebutuhan dan minat wisatawan yang terus berkembang.
“Keragaman industri pariwisata yang dihadirkan ini menunjukkan bahwa produk pariwisata Indonesia tidak hanya menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga aktivitas dan pengalaman yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan minat berwisata, dengan tetap mengutamakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan,” tukas Menpar.













