JAKARTA, Cobisnis.com – Kesehatan metabolik merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kebugaran dan kesehatan jangka panjang. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan berat badan atau kadar gula darah, tetapi juga kemampuan tubuh mengubah makanan menjadi energi secara efisien, menjaga kadar lipid dan tekanan darah, serta mengelola berat badan tanpa peradangan kronis.
Dr. Vipada Sae-Lao, Nutrition Education and Training Lead Asia Pacific Herbalife, menjelaskan bahwa kesehatan metabolik terbentuk melalui jaringan sistem tubuh yang saling terhubung. Sistem tersebut mencakup komposisi tubuh, kesehatan usus, sistem kekebalan tubuh, integritas kulit, kualitas tidur, aktivitas fisik, hormon, dan sistem saraf.
Menurut Dr. Sae-Lao, kondisi kardiometabolik yang memengaruhi kesehatan jantung dan metabolisme terus meningkat di Asia. Masyarakat Asia juga cenderung menghadapi risiko metabolik pada indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan masyarakat di negara-negara Barat. Perubahan pola makan, gaya hidup perkotaan, dan berkurangnya aktivitas fisik membuat upaya menjaga kesehatan metabolik sejak dini semakin penting.
Pendekatan untuk meningkatkan kesehatan metabolik tidak dapat bergantung pada solusi instan. Pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur berkualitas, serta kebiasaan hidup sehat yang konsisten diperlukan untuk membantu menjaga keseimbangan berbagai sistem tubuh.
Komposisi Tubuh Berperan Penting
Komposisi tubuh memberikan gambaran kesehatan metabolik yang lebih menyeluruh dibandingkan berat badan atau indeks massa tubuh saja. Perbandingan massa otot dan lemak menjadi salah satu faktor penting karena jaringan otot aktif secara metabolik dan menggunakan energi, termasuk ketika tubuh sedang beristirahat.
Lemak juga memiliki fungsi penting sebagai sumber energi serta komponen pembentuk membran sel. Namun, penumpukan lemak berlebih, terutama di sekitar organ dalam, dapat mengganggu keseimbangan metabolik dan meningkatkan peradangan.
Asupan lemak sehat, termasuk asam lemak omega-3 yang terdapat dalam ikan berlemak, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun, dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. Omega-3 juga dikaitkan dengan dukungan terhadap fungsi otot dan pemulihan setelah berolahraga. Pada orang dewasa yang mengalami penurunan massa otot akibat penuaan atau sarkopenia, pemenuhan zat gizi dan aktivitas fisik yang sesuai turut berperan dalam menjaga massa serta kekuatan otot.
Mengatur Kadar Gula Darah
Menjaga kadar gula darah tetap stabil merupakan bagian penting dari kesehatan metabolik. Setelah seseorang mengonsumsi karbohidrat, glukosa masuk ke aliran darah dan memicu pelepasan insulin, yaitu hormon yang membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
Konsumsi karbohidrat sederhana dan produk olahan secara berulang, terutama jika tidak diimbangi serat, protein, serta aktivitas fisik yang memadai, dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Dalam jangka panjang, pola makan yang kurang seimbang dapat menyulitkan pengelolaan kesehatan metabolik.
Pola makan yang mencakup sumber karbohidrat dengan indeks glikemik lebih rendah, protein rendah lemak, lemak sehat, dan serat dapat membantu mendukung pengaturan energi. Menjaga jadwal makan yang konsisten serta menghindari kebiasaan makan terlalu larut malam juga dapat membantu menyelaraskan pola makan dengan ritme biologis tubuh.
Menjaga Kesehatan Usus
Usus sering disebut sebagai “otak kedua” karena memiliki hubungan kompleks dengan berbagai fungsi tubuh. Triliunan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan atau mikrobioma usus berinteraksi dengan sistem tubuh lainnya dan berperan dalam pemrosesan zat gizi serta pemanfaatan energi dari makanan.
Mikrobioma yang beragam dan didukung asupan zat gizi memadai berkontribusi terhadap fungsi pencernaan dan metabolisme. Sebaliknya, ketidakseimbangan mikroorganisme usus dapat berkaitan dengan perubahan pengaturan energi dan penyimpanan lemak.
Kesehatan usus dapat didukung melalui pola makan seimbang, konsumsi makanan kaya serat sebagai sumber prebiotik, serta asupan probiotik dari sumber yang sesuai. Kebiasaan tersebut perlu dilakukan secara konsisten untuk membantu menjaga keseimbangan mikrobioma, mendukung fungsi kekebalan tubuh, dan mengatur peradangan.
Tidur dan Pemulihan Tubuh Tidak Boleh Diabaikan
Kualitas tidur dan kemampuan mengelola stres turut memengaruhi kesehatan metabolik. Kedua faktor tersebut berkaitan dengan keseimbangan hormon dan sistem saraf, termasuk kortisol, sensitivitas insulin, hormon pengatur nafsu makan, tingkat energi, dan pengaturan kadar gula darah.
Kurang tidur dan stres berkepanjangan dapat mengganggu kebiasaan makan, aktivitas fisik, serta proses pemulihan tubuh. Karena itu, menjaga jadwal tidur yang teratur dan menyediakan waktu untuk beristirahat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesehatan secara menyeluruh.
Hubungan Kesehatan Metabolik dan Kondisi Kulit
Dampak kesehatan metabolik terkadang dapat terlihat pada kondisi kulit, meskipun penampilan kulit tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator fungsi metabolisme. Kondisi kulit dapat dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk kecukupan nutrisi, kesehatan usus, pengaturan gula darah, komposisi tubuh, kualitas tidur, dan tingkat stres.
Kulit sehat, bening, dan bercahaya yang populer dengan istilah glass skin menjadi salah satu perhatian masyarakat di Asia. Untuk mendukung kesehatan kulit, tubuh membutuhkan asupan zat gizi yang cukup dari makanan sehari-hari, bukan hanya perawatan dari luar.
Protein berperan dalam perbaikan dan regenerasi jaringan kulit. Sementara itu, buah dan sayuran dengan beragam warna menyediakan vitamin A, C, dan E serta fitonutrien yang membantu melindungi tubuh dari stres oksidatif dan mendukung pembentukan kolagen.
Kecukupan cairan dan konsumsi makanan yang beragam juga membantu menjaga struktur serta elastisitas kulit. Pemenuhan zat gizi tersebut mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan sekaligus membantu mempertahankan kesehatan kulit.
Dr. Sae-Lao menegaskan bahwa kesehatan metabolik bergantung pada keselarasan berbagai sistem tubuh yang saling menyesuaikan. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, mulai dari memilih makanan bergizi, bergerak aktif, menjaga kualitas tidur, hingga mengelola stres, dapat menjadi fondasi untuk mendukung fungsi metabolik dan kesejahteraan jangka panjang.













