JAKARTA, Cobisnis.com – Kesulitan belajar tidak selalu berkaitan dengan metode yang paling cocok bagi seseorang. Adythia Pratam menilai, persoalannya bisa lebih sederhana, yaitu seseorang memang tidak memiliki kebiasaan untuk belajar.
“Anda bukan tipe belajar audio visual. Anda tipenya tidak belajar.” dikutip dari kanal Youtube kasisolusi, Rabu (9/9/2026).
Menurut Adythia, banyak orang sebenarnya memiliki waktu untuk mengisi kepala dengan berbagai informasi. Namun, waktu tersebut lebih sering digunakan untuk mengonsumsi hiburan dan gosip dibandingkan konten yang dapat menambah pengetahuan.
Karena itu, persoalan belajar bukan hanya tentang memilih metode yang sesuai. Ada kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan yang juga perlu dibangun.
Pandangan tersebut kemudian berkaitan dengan kondisi dunia kerja. Di satu sisi, pencari kerja merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan, sementara perusahaan juga menghadapi persoalan dalam menemukan pekerja yang sesuai kebutuhan.
Adythia menilai persoalannya bukan semata karena lapangan pekerjaan tidak tersedia. Ada ketidaksesuaian antara pekerjaan yang dibutuhkan perusahaan dengan kemampuan pencari kerja yang tersedia.
“Masalahnya adalah bukan tentang enggak ada lapangan kerjanya. Lapangan kerjanya kagak cocok sama yang sekarang ready.”
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki pencari kerja dan kebutuhan perusahaan. Artinya, keberadaan lapangan kerja belum otomatis membuat seseorang bisa mengisi posisi yang tersedia.
Situasi ini membuat kemampuan untuk terus belajar menjadi semakin penting. Seseorang tidak hanya perlu mencari pekerjaan, tetapi juga memastikan keterampilannya berkembang sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Pada akhirnya, persoalan dunia kerja tidak hanya bisa dilihat dari jumlah lapangan pekerjaan. Kesesuaian antara skill pencari kerja dan kebutuhan perusahaan juga menjadi bagian penting yang menentukan apakah sebuah posisi bisa terisi.













