JAKARTA, Cobisnis.com — Dinamika politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perhatian. Sejumlah partai politik dan kelompok kekuatan politik disebut mulai mempersiapkan strategi serta membaca kemungkinan konfigurasi politik ke depan.
Pengamat Politik sekaligus Founder Lembaga Survei Kedai Kopi, Hendri Satrio, melihat adanya dua kelompok yang mulai mencermati perkembangan politik menjelang pesta demokrasi tersebut.
Keduanya yakni kelompok Joko Widodo dan keluarganya yang dikenal sebagai “kubu Solo”, serta kelompok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarganya yang disebut “kubu Cikeas”.
“Kalau kemudian ada dua kubu Solo dan Cikeas, itu sih menurut saya kubu biasa saja, saling mengintip, bersiap-siap memanaskan mesin, sama-sama cari duit, ngumpulin duit,” kata Hendri, dikutip dari Gaspol Podcast , Minggu (13/9/2026).
Hendri mengatakan, kedua kelompok tersebut sejauh ini belum memperlihatkan langkah politik yang mengarah pada perseteruan terbuka. Mereka dinilai masih mengamati situasi dan menghitung peluang masing-masing untuk menghadapi dinamika politik mendatang.
Selain itu, pembicaraan mengenai potensi pasangan calon presiden dan wakil presiden juga mulai muncul. Salah satu yang menjadi sorotan adalah sosok yang mungkin dipilih Presiden Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden jika kembali maju dalam Pilpres 2029.
Kendati demikian, Hendri menilai persaingan terbuka antara kubu Solo dan Cikeas belum diperlukan. Menurutnya, waktu pelaksanaan Pilpres 2029 masih cukup jauh sehingga belum menjadi momentum untuk menciptakan ketegangan politik.
“Apakah sekarang mereka harus bermusuhan? Minimal memunculkan friksi, menurut saya belum saatnya, momentumnya masih terlalu jauh,” ujar dia.
Di sisi lain, Hendri memperkirakan Prabowo akan sangat berhati-hati dalam menentukan calon wakil presidennya. Ia menilai sosok yang dipilih kemungkinan bukan figur yang memiliki pengaruh terlalu besar di internal partai politik.
Langkah tersebut dinilai berkaitan dengan upaya menjaga posisi Gerindra dalam jangka panjang. Atas pertimbangan itu, Hendri meragukan AHY maupun Gibran Rakabuming Raka akan menjadi pilihan Prabowo untuk mendampinginya pada Pilpres 2029.
“Misalnya nih Prabowo ambil AHY jadi wapresnya, artinya apa, dia membesarkan Demokrat, yang bisa jadi membahayakan Gerindra di 2034,” kata Hendri.
“Sama, kalau dia mengambil Gibran, bisa jadi membahayakan Gerindra juga dan membesarkan PSI atau yang dalam bayang-bayang Golkar,” tutur dia.
Menurut Hendri, perkembangan menuju Pilpres 2029 masih akan sangat dinamis. Partai politik dan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan politik diperkirakan masih akan melakukan penjajakan, membaca kekuatan masing-masing, serta menentukan strategi sebelum memasuki pertarungan politik secara terbuka.













