• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Tuesday, October 13, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Nasional

Banjir Bandang Nepal Terjadi Tanpa Hujan, Ini Penyebabnya

Desti Dwi Natasya by Desti Dwi Natasya
August 27, 2026
in Nasional
0
Banjir bandang di Nepal terjadi tanpa hujan deras. Ilmuwan menduga longsoran batu dan es di Himalaya menjadi pemicu utama bencana. (Foto: X/MarioNawfal)

Banjir bandang di Nepal terjadi tanpa hujan deras. Ilmuwan menduga longsoran batu dan es di Himalaya menjadi pemicu utama bencana. (Foto: X/MarioNawfal)

JAKARTA, Cobisnis.com – Banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah Rasuwa, Nepal, pada Rabu (26/8) waktu setempat diduga bukan dipicu langsung oleh gempa bumi seperti dugaan awal.

Sejumlah ilmuwan justru menunjuk longsoran batu dan es atau rock-ice avalanche sebagai pemicu utama bencana tersebut.

Analisis awal yang dikutip dari ChosunBiz menunjukkan material berupa batuan dan es runtuh dari lereng Pegunungan Himalaya, kemudian masuk ke aliran sungai dan memicu gelombang air, lumpur, serta material longsoran dalam jumlah besar.

Penilaian awal International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) juga menduga longsoran batu-es membendung Sungai Lhende dan kemudian memicu rangkaian banjir di wilayah hilir.

Kebingungan mengenai penyebab bencana bermula ketika sistem pemantauan seismik mendeteksi getaran sekitar pukul 08.37 waktu setempat.

US Geological Survey (USGS) awalnya mengidentifikasi sinyal tersebut sebagai gempa bermagnitudo 4,4, tetapi setelah melakukan analisis tambahan terhadap gelombang seismik, informasi itu dikoreksi.

Sinyal energi tersebut ternyata berasal dari longsoran, bukan gempa bumi.

Artinya, pergerakan batuan dan es dalam jumlah besar menghasilkan getaran yang terekam seperti aktivitas gempa.

Batu dan Es Runtuh Bersamaan

Dalam fenomena rock-ice avalanche, material batuan dan es dari wilayah pegunungan tinggi runtuh secara bersamaan.

Ketika massa besar tersebut meluncur ke bawah, material dapat berubah menjadi aliran yang lebih cair saat bercampur dengan air, es yang mencair, sedimen, dan material sungai.

Dalam kasus Nepal, para ilmuwan menduga longsoran tersebut masuk ke sistem Sungai Lhende dan menghasilkan rangkaian proses yang memperbesar volume serta daya rusak banjir.

Penilaian awal NDRRMA Nepal berdasarkan citra satelit menunjukkan salju dan batu runtuh sekitar 20 kilometer dari pos perbatasan Rasuwagadhi.

Material tersebut kemudian masuk ke Sungai Rende dan mengalir menuju Sungai Trishuli.

Bahaya semakin besar karena longsoran dapat membawa batu dan es dalam jumlah besar ke sungai sehingga aliran air terdorong, terbendung sementara, atau bercampur dengan material longsoran.

Jika bendungan alami itu kemudian jebol atau material terus bergerak ke hilir, gelombang air dan lumpur dengan daya rusak besar dapat terbentuk.

Ahli hidrologi Hatim Sharif dari University of Texas San Antonio mengatakan tidak adanya hujan sebelum kejadian menjadi salah satu hal yang mencolok.

“Hal itu pada dasarnya menggagalkan hampir semua sistem peringatan banjir operasional di dunia,” sebutnya seperti dikutip dari ChosunBiz.

Ia menggambarkan campuran air dan lumpur yang bergerak cepat seperti “beton cair”, sehingga sangat sulit dihindari ketika sudah terlihat dari jarak dekat.

Para ilmuwan masih belum menutup kemungkinan bahwa danau gletser turut berperan dalam memperbesar banjir.

Profesor geologi Tribhuvan University, Ranjan Kumar Dahal, mengatakan belum dapat dipastikan danau mana yang mungkin terlibat.

Menurutnya, banjir sebesar itu dapat melibatkan kombinasi longsoran salju besar dan glacial lake outburst flood (GLOF).

Dengan demikian, rantai penyebab bencana masih terus diteliti, tetapi analisis awal semakin menguatkan bahwa banjir tersebut bukan sekadar akibat hujan deras.

Pegunungan Himalaya Semakin Hangat

Fenomena rock-ice avalanche menjadi perhatian ilmuwan karena kawasan pegunungan tinggi semakin dipengaruhi perubahan kondisi iklim.

Penelitian di Communications Earth & Environment mengenai longsoran batu-es di Nepal menunjukkan bahwa suhu yang lebih tinggi dapat meningkatkan pencairan salju dan menghasilkan air yang melumasi material longsoran sehingga berpotensi meningkatkan mobilitasnya.

Namun, perubahan iklim belum dapat disebut sebagai penyebab langsung banjir Nepal 2026 karena penyebab spesifik kejadian masih dalam investigasi.

Bencana ini menunjukkan bagaimana satu kejadian di pegunungan dapat berkembang menjadi rangkaian bencana, mulai dari runtuhan batu dan es, gangguan aliran sungai, hingga banjir dan aliran lumpur yang bergerak cepat ke wilayah hilir.

Karena itu, pemantauan bahaya di Himalaya tidak cukup hanya mengandalkan sistem peringatan gempa atau hujan.

Longsoran, gletser, dan danau gletser juga perlu dipantau sebagai bagian dari sistem peringatan multi-bencana.

Download WordPress Themes Free
Premium WordPress Themes Download
Premium WordPress Themes Download
Download Nulled WordPress Themes
free download udemy paid course
download lava firmware
Download WordPress Themes Free
free online course
Tags: banjir bandang Nepalbanjir Nepalbanjir tanpa hujanGLOFHeadlineHimalayalongsoran batu dan esRasuwarock-ice avalancheSungai Lhende

Related Posts

SpaceX mengakuisisi spektrum 800 MHz untuk memperkuat Starlink Mobile dan memperluas konektivitas seluler di Amerika Serikat, termasuk wilayah terpencil.

Starlink Akuisisi Spektrum 800 MHz, Bidik Pasar Seluler

by Desti Dwi Natasya
October 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - SpaceX milik Elon Musk mengakuisisi spektrum frekuensi 800 MHz dari Grain Management untuk memperkuat pengembangan Starlink Mobile,...

Rocky Gerung Jadi Penasihat Presiden, Apakah Sikap Kritisnya Akan Berubah?

Rocky Gerung Jadi Penasihat Presiden, Apakah Sikap Kritisnya Akan Berubah?

by M.Dhayfan Al-ghiffari
October 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Keputusan Rocky Gerung bergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memunculkan...

Guru PPPK Paruh Waktu Ditargetkan Beralih Status pada Awal 2027

Guru PPPK Paruh Waktu Ditargetkan Beralih Status pada Awal 2027

by Hidayat Taufik
October 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Perubahan status guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu menjadi penuh waktu ditargetkan mulai terlaksana...

Jual Emas Malah Turun 2 Karat, Kok Bisa?

Jual Emas Malah Turun 2 Karat, Kok Bisa?

by M.Dhayfan Al-ghiffari
October 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Transparansi kadar emas menjadi perhatian setelah muncul perbincangan mengenai dugaan perbedaan kadar perhiasan saat dijual kembali. Perbedaan...

Bukan Cuma Modal dan Lokasi, Ini Kunci Bertahan di Bisnis F&B

Bukan Cuma Modal dan Lokasi, Ini Kunci Bertahan di Bisnis F&B

by M.Dhayfan Al-ghiffari
October 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Bisnis makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) kerap terlihat menjanjikan. Namun, di balik ramainya pelanggan,...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Guardian Indonesia Luncurkan MyGuardian Rewards, Ada Poin Belanja hingga Voucher Rp100.000

Guardian Indonesia Luncurkan MyGuardian Rewards, Ada Poin Belanja hingga Voucher Rp100.000

October 12, 2026
IHCSA

Bisnis Makin Lintas Batas, Risiko Hukum Makin Kompleks

October 12, 2026
BSI dan BPJS Kesehatan Perkuat Kerja Sama, Pembayaran Iuran JKN Makin Mudah

BSI dan BPJS Kesehatan Perkuat Kerja Sama, Pembayaran Iuran JKN Makin Mudah

October 12, 2026
Penelitian ilmuwan China menyoroti gen kuno CCNB1IP1 dan elemen pengaturnya yang diduga berperan dalam pembentukan lipatan korteks otak manusia.

Gen Kuno Diduga Berperan dalam Pembentukan Lipatan Otak

October 12, 2026
Serangan Houthi menghantam sejumlah bandara Arab Saudi meski negara itu memiliki sistem Patriot dan THAAD. Pakar menyoroti sejumlah faktor penyebabnya.

Mengapa Rudal Houthi Bisa Tembus Pertahanan Saudi?

October 13, 2026
Iran mengancam menargetkan pusat data, fasilitas AI, dan kabel komunikasi terkait AS di kawasan Teluk jika konflik dengan Washington kembali memanas.

Iran Ancam Hancurkan Pusat Data dan Fasilitas AI AS

October 13, 2026
Standard Chartered Indonesia menggelar Treasury Leadership Forum 2026 untuk membahas pembayaran digital, AI, dan peluang Indonesia di tengah perubahan rantai pasok global.

Standard Chartered Bahas Masa Depan Pembayaran Digital

October 13, 2026
Asuransi Jasindo mendorong pengelolaan risiko maritim melalui perlindungan kapal, muatan, dan tanggung jawab hukum untuk mendukung kelancaran logistik laut.

Jasindo Perkuat Mitigasi Risiko untuk Logistik Laut

October 13, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved