JAKARTA, Cobisnis.com – Tempat tinggal bukan sekadar ruang untuk pulang dan beristirahat. Lingkungan di sekitar rumah dapat ikut membentuk kebiasaan, cara berinteraksi, hingga pola hidup seseorang.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam bidang geopsychology yang melihat hubungan antara tempat seseorang tinggal dengan perilaku dan kepribadiannya. Kondisi lingkungan yang berbeda dapat menghadirkan pengalaman sehari hari yang berbeda pula.
Faktor fisik menjadi salah satu hal yang paling mudah dirasakan. Iklim, pemandangan alam, kualitas udara, tingkat kebisingan, hingga ketersediaan ruang terbuka dapat memengaruhi aktivitas seseorang.
Orang yang tinggal dekat dengan alam memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Sebaliknya, kawasan perkotaan yang padat, bising, dan memiliki tingkat polusi tinggi dapat membuat keseharian terasa lebih melelahkan.
Ritme kehidupan juga bisa ikut berubah berdasarkan lingkungan tempat tinggal. Kawasan perkotaan yang serba cepat dapat mendorong seseorang terbiasa bergerak cepat dan menghadapi persaingan, sementara kawasan yang lebih tenang menawarkan ritme kehidupan yang berbeda.
Lingkungan sosial juga memiliki peran penting. Keluarga, teman, tetangga, dan komunitas dapat memengaruhi rasa memiliki serta kesempatan seseorang untuk membangun hubungan dengan orang lain.
Lingkungan yang suportif dapat membuat seseorang lebih mudah bersosialisasi dan merasa terhubung. Sebaliknya, minimnya interaksi sosial di sekitar tempat tinggal dapat meningkatkan kemungkinan seseorang merasa terisolasi.
Budaya setempat juga dapat memperluas cara pandang seseorang. Tinggal di kawasan yang masyarakatnya beragam memungkinkan seseorang bertemu dengan berbagai bahasa, makanan, tradisi, dan sudut pandang.
Akses terhadap fasilitas dan transportasi turut menentukan pilihan aktivitas sehari hari. Kawasan yang terhubung dengan berbagai moda transportasi dan fasilitas membuat seseorang lebih mudah bekerja, bertemu teman, berolahraga, hingga mencari hiburan.
Sebaliknya, akses yang terbatas dapat membuat lebih banyak waktu habis dalam perjalanan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengurangi waktu untuk beristirahat, bersosialisasi, dan melakukan aktivitas lainnya.
Konsep kawasan terintegrasi juga mulai dikembangkan di sejumlah kota mandiri di kawasan penyangga Jakarta, termasuk Tangerang. Salah satunya Paramount Petals yang mengembangkan hunian dengan area komersial, fasilitas kota, ruang terbuka hijau, dan infrastruktur.
Direktur Sales dan Marketing Paramount Land Ferry John Sihombing mengatakan konektivitas menjadi bagian dari pengembangan kawasan tersebut. “Perluasan transportasi publik adalah komitmen kami membangun kota mandiri yang terhubung sepenuhnya,” kata Ferry.
Pada akhirnya, memilih tempat tinggal bukan hanya soal ukuran atau kenyamanan rumah. Lingkungan, komunitas, budaya, fasilitas, dan akses mobilitas juga dapat ikut menentukan bagaimana seseorang menjalani kesehariannya.
Dengan demikian, keputusan memilih tempat tinggal juga berarti memilih lingkungan yang akan menjadi bagian dari gaya hidup. Faktor di sekitar rumah dapat perlahan membentuk kebiasaan dan cara seseorang menggunakan waktunya.












