JAKARTA, Cobisnis.com – Anies Baswedan menilai istilah “anak abah” yang masih digunakan untuk melabeli orang-orang yang mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah tidak relevan.
Menurut Anies, kontestasi Pilpres 2024 telah selesai sehingga perdebatan politik seharusnya tidak lagi berfokus pada dukungan terhadap pasangan calon tertentu.
“Kalau pilpres itu udah ada masanya. Setahun itu sudah lewat, habis itu sudah selesai,” kata Anies saat berbincang dengan komika Sammy Not A Slim Boy dan David Nurbianto dalam podcast Talk of Life, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (14/08/2026).
Anies menilai kritik terhadap pemerintah semestinya dijawab melalui penjelasan mengenai kebijakan maupun gagasan yang menjadi dasar pengambilan keputusan.
“Sebetulnya saya kasihan kalau narasinya tidak berkembang. Itu kan narasi pada saat pilpres. Setelah itu kan sudah banyak yang dikerjakan. Kenapa tidak bisa dijawab? Kenapa harus memberi label kepada yang berbicara,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Sammy mengungkap pengalamannya yang kerap dicap sebagai pendukung Anies ketika menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Prabowo.
“Sekarang itu tuh saya di posisi susah karena ketika saya kritik Pak Prabowo, ‘Ah, ini mah rombongan kalah pilpres gitu.’ Jadi ya, ada enak enggak enaknya ya jadi ‘anak abah’,” kata Sammy.
Anies kemudian menyoroti penggunaan label tersebut yang menurutnya juga pernah diarahkan kepada karya kreatif seperti film dokumenter Dirty Vote.
Ia menilai perdebatan setelah Pilpres 2024 seharusnya diarahkan pada gagasan, kebijakan, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Istilah “anak abah” sendiri populer sebagai sebutan bagi pendukung Anies selama Pilpres 2024 karena sebagian pendukungnya menggunakan panggilan “Abah” untuk Anies.
Meski pilpres telah berakhir, istilah tersebut masih digunakan, terutama di media sosial, untuk melabeli individu atau kelompok yang menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto.













