JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan sektor pariwisata Indonesia sepanjang Semester I 2026 mencatatkan pertumbuhan yang positif, mulai dari kunjungan wisatawan mancanegara, perjalanan wisatawan nusantara, realisasi investasi, hingga tingkat okupansi hotel.
“Capaian tersebut merupakan hasil dari strategi yang dijalankan secara adaptif melalui penyesuaian pasar (market pivot), penguatan promosi di negara-negara dengan potensi pertumbuhan tinggi, peningkatan pergerakan wisatawan nusantara, serta pengembangan produk dan destinasi yang semakin berkualitas,” jelasnya melalui siaran pers yang diterima
cobisnis.com
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan atau tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari jumlah tersebut, kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya meningkat hampir 10 persen, Asia Tenggara tumbuh 8,22 persen, sedangkan pasar Oseania naik 6,60 persen.
Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara tertinggi kedua di kawasan Asia Tenggara. Hasil ini sekaligus menunjukkan strategi diversifikasi pasar yang dijalankan Kementerian Pariwisata bersama berbagai pemangku kepentingan berjalan secara efektif.
Tidak hanya dari sisi jumlah kunjungan, kualitas aktivitas wisata juga terus meningkat. Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan naik 6,36 persen menjadi sekitar 1.313 dolar AS.
“Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari besarnya manfaat ekonomi yang mereka tinggalkan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan daerah,” tuturnya.
Pertumbuhan sektor pariwisata juga ditopang oleh tingginya mobilitas wisatawan nusantara yang mencapai 630,41 juta perjalanan atau meningkat 2,71 persen dibandingkan Semester I 2025.
Pada saat yang sama, jumlah perjalanan warga negara Indonesia ke luar negeri tercatat 4,46 juta perjalanan atau turun 2,40 persen sehingga Indonesia membukukan surplus kunjungan sebesar 2,99 juta.
Di sisi investasi, sektor pariwisata mencatatkan realisasi sebesar Rp39,68 triliun atau meningkat 16,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi tersebut terdiri atas penanaman modal asing sebesar Rp12,19 triliun dan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp27,48 triliun, yang masing-masing tumbuh 37 persen dan 9,39 persen.
Menurut Menpar, peningkatan investasi tersebut tidak hanya mendorong pembangunan fasilitas pariwisata, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi.
“Investasi pariwisata tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi,” kata Menpar.
Peningkatan aktivitas pariwisata juga tercermin dari tingkat okupansi hotel yang mencapai 48,20 persen atau naik 2,48 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Pertumbuhan pariwisata memberikan dampak berganda terhadap perekonomian nasional. Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen, dengan sektor-sektor yang berkaitan erat dengan pariwisata memberikan kontribusi signifikan,” tukas Menpar.