JAKARTA, Cobisnis.com – Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN, Dony Oskaria, mengaku frustrasi menghadapi proses penyehatan sejumlah BUMN karya yang hingga kini masih dibebani kerugian besar dan utang yang menggunung.
Menurut Dony, persoalan yang dihadapi tidak hanya terjadi di perusahaan induk, tetapi juga telah menjalar ke anak usaha. Kondisi tersebut membuat proses perbaikan harus dilakukan secara bertahap.
Ia mengatakan energi yang dimiliki tim Danantara juga terbatas. Saat satu persoalan selesai ditangani, muncul lagi masalah baru di perusahaan pelat merah lainnya.
Dony mencontohkan kondisi perusahaan di sektor properti yang menurutnya sangat berat. Ia menyebut ada perusahaan dengan aset hanya sekitar Rp 7 triliun, tetapi memiliki utang mencapai Rp 24 triliun.
Kondisi tersebut membuat upaya restrukturisasi tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, setiap perusahaan memerlukan strategi pemulihan yang berbeda sesuai kondisi keuangannya.
Dony juga mengungkapkan empat BUMN karya besar mencatat kinerja negatif sepanjang 2025. PT Wijaya Karya, PT PP, PT Adhi Karya, dan PT Waskita Karya sama-sama membukukan rugi bersih.
Jika digabungkan, total kerugian keempat perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp 25,1 triliun. Selain merugi, sebagian besar juga masih dibebani utang dalam jumlah besar.
Ia menegaskan dirinya sengaja menyampaikan kondisi tersebut secara terbuka agar masyarakat memahami bahwa proses pembenahan BUMN memang sedang berjalan dan tidak berada dalam kondisi yang mudah.
Dony juga menyinggung kondisi PT PP Properti yang harus melakukan penyesuaian nilai aset atau impairment hingga hampir Rp 13 triliun. Menurutnya, proses perbaikan dilakukan satu per satu agar perusahaan dapat kembali sehat.
Di sisi lain, persoalan anak usaha Adhi Karya, PT Adhi Commuter Properti Tbk, turut menjadi sorotan. Perusahaan menghadapi tekanan likuiditas yang berdampak pada keterlambatan penyelesaian proyek apartemen LRT City serta proses pengembalian dana kepada konsumen.













