JAKARTA, Cobisnis.com – Partai Gerindra menanggapi hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mencatat penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Partai berlambang kepala garuda itu menegaskan tidak khawatir dengan hasil survei tersebut dan justru menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengatakan perubahan tingkat kepuasan publik maupun elektabilitas merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan demokrasi, terutama saat pemerintah sedang menjalankan berbagai program dan kebijakan strategis.
Ia menjelaskan, hasil survei dapat dijadikan sebagai masukan untuk memperbaiki kinerja pemerintahan. Namun, menurutnya, survei tidak menjadi dasar dalam menentukan arah maupun kebijakan yang akan diambil pemerintah.
Sugiat menilai penurunan angka kepuasan publik bukan sesuatu yang perlu disikapi dengan kepanikan politik. Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi sinyal bagi pemerintah untuk terus mempercepat realisasi program dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, dinamika hasil survei juga dipengaruhi oleh proses pembenahan yang tengah dilakukan pemerintah, mulai dari penataan anggaran, pengendalian harga kebutuhan pokok, hingga pelaksanaan berbagai program prioritas nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo masih berada pada tahap awal karena belum genap berjalan selama dua tahun. Oleh sebab itu, ia berharap perhatian publik tidak hanya tertuju pada fluktuasi hasil survei, tetapi juga pada proses pelaksanaan kebijakan yang sedang dibangun.
Gerindra meyakini tingkat kepuasan masyarakat akan kembali meningkat seiring semakin optimalnya pelaksanaan sejumlah program unggulan pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan ketahanan pangan, dan penataan sektor ekonomi yang manfaatnya mulai dirasakan masyarakat.
Berdasarkan hasil survei SMRC yang berlangsung pada 5-19 Juli 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo tercatat sebesar 51,1 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan hasil survei pada November 2025 yang mencapai 81,2 persen.













