JAKARTA, Cobisnis.com – Iran kembali melancarkan serangan rudal ke Kuwait pada Kamis, 30 Juli 2026. Serangan tersebut menghantam sebuah gedung milik perusahaan China di wilayah utara Kuwait dan menewaskan satu pekerja.
Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan serangan itu menyebabkan kerusakan material yang signifikan pada bangunan. Otoritas setempat langsung bergerak menangani insiden tersebut bersama lembaga terkait.
Pemerintah Kuwait menegaskan seluruh langkah darurat telah dilakukan untuk memastikan keamanan warga dan penduduk. Angkatan bersenjata Kuwait juga menyatakan tetap berkomitmen menjaga kedaulatan negara di tengah meningkatnya eskalasi kawasan.
Kuwait menjadi salah satu negara Teluk yang beberapa kali menjadi sasaran rudal dan drone Iran sejak konflik di Timur Tengah kembali memanas. Selain Kuwait, Yordania juga menjadi target serangan dalam beberapa pekan terakhir.
Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke Iran pada Rabu, 29 Juli 2026. Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas serangan rudal Iran yang diarahkan ke pasukan AS di Timur Tengah.
Serangan Amerika dilaporkan menghantam puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Sasaran meliputi pusat komando militer, fasilitas rudal, drone, sistem pertahanan pantai, hingga kemampuan maritim.
Media Iran melaporkan serangan Amerika di Pulau Qeshm menewaskan tiga anggota satu keluarga, termasuk seorang anak berusia dua tahun. Dua anak lainnya juga dilaporkan mengalami luka luka.
Sebelumnya, Iran mengakui telah meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Sebagian rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Amerika.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan akan memberikan balasan keras terhadap serangan Iran. Hingga kini, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih terus memanas dan berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas.













