Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, Julie Collins, mengatakan penularan lokal terjadi di antara burung dara laut berjambul besar di Australia Selatan. Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan indikasi kematian massal satwa liar akibat penyebaran virus tersebut.
Pemerintah Australia menyebut belum ada kasus H5N1 yang terdeteksi pada industri unggas maupun sistem pertanian nasional. Otoritas juga menegaskan risiko penularan kepada masyarakat umum masih tergolong rendah sehingga tidak ada perubahan pada tingkat ancaman kesehatan manusia.
Data terbaru menunjukkan terdapat 27 deteksi H5 pada burung laut liar hingga 29 Juli 2026. Kasus tersebut tersebar di Australia Barat, Australia Selatan, New South Wales, dan Queensland.
Pemerintah bersama otoritas negara bagian meningkatkan pengawasan terhadap burung liar serta memperketat langkah biosekuriti di sektor peternakan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah virus menyebar ke populasi unggas komersial yang hingga kini masih bebas dari infeksi.
Julie Collins mengatakan pihaknya memperkirakan akan ada tambahan temuan H5N1 pada satwa liar seiring terjadinya penularan lokal. “While there remains no evidence of any mass mortalities at this point in time, we do expect, with this local transmission, that there will be further detections in Australian wildlife,” ujarnya.
Virus H5N1 yang sangat patogen telah menyebar secara global sejak 2021 dan menginfeksi berbagai spesies burung serta mamalia di sejumlah negara. Wabah tersebut juga berdampak pada peternakan unggas dan peternakan sapi perah di beberapa kawasan dunia, meski kasus pada manusia masih relatif terbatas.
Otoritas Australia mengimbau masyarakat agar tidak menyentuh burung liar yang sakit atau mati dan segera melaporkannya kepada pihak berwenang. Pemerintah menegaskan koordinasi nasional terus dilakukan untuk memperkuat pengawasan sekaligus menjaga industri unggas tetap terlindungi dari penyebaran virus H5N1.