JAKARTA, Cobisnis.com – Pengacara Hotman Paris membagikan pengalaman mengalami saraf kejepit hingga harus menjalani operasi pada area L4 dan L5. Ia juga menyebut harus kembali ke Singapura karena mengalami masalah pada luka bekas operasi.
Saraf kejepit merupakan istilah umum untuk kondisi ketika saraf perifer mengalami tekanan. Saraf perifer sendiri merupakan jaringan saraf yang berada di luar otak dan sumsum tulang belakang.
Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, mulai dari mati rasa, kesemutan, hingga nyeri yang cukup intens. Gejala yang muncul bisa berlangsung sementara atau dalam jangka panjang, tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.
Pada kasus Hotman Paris, saraf kejepit terjadi di area L4 dan L5. Kondisi tersebut merujuk pada tekanan terhadap akar saraf di bagian bawah tulang belakang, tepatnya di antara ruas lumbar keempat dan lumbar kelima.
Tekanan pada akar saraf dapat menimbulkan kondisi yang disebut radikulopati. Gejalanya dapat terasa pada area tubuh yang terhubung dengan saraf tersebut, termasuk bagian punggung bawah dan tungkai.
Radikulopati dapat dibedakan berdasarkan lokasi saraf yang mengalami tekanan. Kondisi ini antara lain meliputi radikulopati servikal pada area leher, radikulopati toraks pada punggung tengah hingga atas, serta radikulopati lumbal pada punggung bagian bawah.
Saraf kejepit juga tidak hanya terjadi di sepanjang tulang belakang. Kondisi serupa dapat muncul di sejumlah bagian tubuh lain, seperti pergelangan tangan, siku, dada bagian atas, paha, kaki, panggul, pinggul, hingga tumit.
Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko saraf kejepit. Usia di atas 50 tahun menjadi salah satu faktor karena perubahan degeneratif dan radang sendi, sementara kelebihan berat badan juga dapat meningkatkan tekanan pada saraf.
Ibu hamil juga dapat mengalami kondisi tersebut karena perubahan tubuh selama kehamilan. Pertumbuhan janin dan berat plasenta dapat memberikan tekanan pada organ serta jaringan di sekitarnya, termasuk saraf.
Sebagian besar kasus saraf kejepit dapat ditangani tanpa operasi. Penanganan dapat dilakukan melalui istirahat, kompres dingin atau hangat, obat pereda nyeri, hingga fisioterapi, sementara pembedahan biasanya dipertimbangkan jika metode nonbedah tidak memberikan hasil yang diharapkan.













