JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mengusulkan Presiden FIFA Gianni Infantino sebagai calon Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya. Usulan tersebut mencuat setelah keduanya menjalin hubungan yang semakin dekat selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Menurut laporan media Amerika Serikat yang mengutip sumber dekat Trump, Infantino dinilai memiliki kemampuan menyatukan banyak orang dari berbagai negara. Penilaian itu menjadi alasan utama Trump mendukung bos FIFA tersebut untuk memimpin organisasi internasional itu.
“Dia dihormati oleh semua orang di seluruh dunia dan memiliki kemampuan istimewa untuk menyatukan orang-orang,” kata sumber yang dekat dengan Trump. Hingga kini, Gedung Putih maupun FIFA belum memberikan tanggapan resmi mengenai laporan tersebut.
Gianni Infantino telah menjabat sebagai Presiden FIFA sejak 2016 dan dikenal aktif membangun hubungan dengan berbagai pemimpin dunia. Kedekatannya dengan Trump semakin terlihat sepanjang gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Utara.
Laporan ini muncul menjelang berakhirnya masa jabatan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada Desember 2026. Sosok penggantinya akan memimpin PBB untuk masa jabatan lima tahun yang dimulai pada 1 Januari 2027.
Berdasarkan Piagam PBB, pemilihan Sekretaris Jenderal harus melalui rekomendasi Dewan Keamanan sebelum mendapat persetujuan Majelis Umum. Artinya, Infantino tetap harus memperoleh dukungan mayoritas anggota Dewan Keamanan dan lolos dari kemungkinan hak veto negara anggota tetap.
Usulan Trump juga menjadi sorotan karena selama ini ia beberapa kali mengkritik kinerja PBB dalam menangani konflik internasional. Pemerintahannya bahkan sempat mengurangi pendanaan Amerika Serikat untuk PBB dan menarik diri dari sejumlah badan yang berafiliasi dengan organisasi tersebut.
Meski masih sebatas laporan dari sumber yang dekat dengan Trump, wacana tersebut langsung menarik perhatian publik internasional. Jika benar dicalonkan, Gianni Infantino akan menghadapi proses politik yang panjang sebelum berpeluang menjadi Sekretaris Jenderal PBB berikutnya.













