JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meredam pernyataannya terkait dugaan campur tangan China terhadap data pemilu AS. Sikap itu muncul hanya lima hari setelah ia menyebut insiden tersebut sebagai pelanggaran data pemilu terbesar dalam sejarah.
Trump mengatakan pemerintah AS akan membahas persoalan itu dengan pejabat China. Namun, ia tidak mengumumkan rencana sanksi atau langkah hukuman terhadap Beijing.
Selain itu, Trump menilai dugaan pelanggaran tersebut merupakan peristiwa lama. Menurutnya, kondisi China saat ini sudah berbeda dibandingkan ketika dugaan insiden itu terjadi.
Pekan lalu, Trump menuduh China memperoleh sekitar 220 juta data pemilih Amerika Serikat sejak 2020. Ia juga menyebut kebocoran itu sebagai ancaman besar terhadap keamanan pemilu negara tersebut.
Meski begitu, Trump kini menganggap tindakan tersebut bukan sesuatu yang terjadi sepihak. Ia mengatakan Amerika Serikat juga melakukan aktivitas serupa terhadap China.
Menurut Trump, kedua negara sama-sama menjalankan operasi tertentu terhadap satu sama lain. Karena itu, ia menilai hubungan kedua negara tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi.
Sementara itu, Gedung Putih tetap melanjutkan persiapan kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
Keputusan untuk tetap melanjutkan persiapan kunjungan menunjukkan bahwa ketegangan akibat tuduhan tersebut belum mengubah rencana diplomatik kedua negara. Namun, hubungan Washington dan Beijing masih menjadi perhatian karena berbagai isu strategis yang melibatkan keamanan, perdagangan, dan teknologi.













