JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion MetLife, New Jersey. Sikap tersebut disebut sebagai bentuk protes terhadap sejumlah kebijakan dan keputusan FIFA selama penyelenggaraan turnamen.
Spanyol akhirnya keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor 1-0. Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan La Roja meraih gelar juara dunia kedua sepanjang sejarah.
Menurut The Independent, ketidakhadiran Ceferin mencerminkan hubungan yang semakin memburuk antara UEFA dan FIFA. Sejumlah keputusan FIFA selama turnamen disebut menjadi sumber ketidakpuasan organisasi sepak bola Eropa tersebut.
Salah satu pemicu utama adalah keputusan Komite Disiplin FIFA membatalkan hukuman larangan bermain satu pertandingan bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. UEFA sebelumnya mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.
Kontroversi semakin besar setelah diketahui Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau kembali kartu merah yang diterima Balogun. Situasi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya pengaruh politik dalam proses pengambilan keputusan FIFA.
UEFA juga menyoroti persoalan wasit asal Somalia, Omar Artan, yang disebut dipulangkan oleh otoritas Amerika Serikat sebelum turnamen dimulai. Setelah kejadian tersebut, UEFA justru menunjuk Artan sebagai wasit final Piala Super UEFA yang akan digelar bulan depan.
Perlakuan terhadap Timnas Iran selama Piala Dunia 2026 juga menjadi perhatian UEFA. Iran disebut menghadapi persyaratan masuk dan keluar Amerika Serikat yang lebih ketat dibandingkan 47 peserta lainnya, sementara pelatih Amir Ghalenoei menyebut timnya sebagai tim paling tertindas di turnamen.
Kontroversi bertambah setelah Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat Markwayne Mullin mengatakan dirinya menari kegirangan ketika Iran tersingkir. Pernyataan tersebut ikut menjadi sorotan dalam rangkaian persoalan yang membuat UEFA tidak puas terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
UEFA juga mengkritik sejumlah perubahan teknis yang diterapkan FIFA. Salah satunya adalah jeda hidrasi yang dinilai membuat pertandingan seperti terbagi menjadi empat kuarter dan memberikan ruang tambahan bagi penyiar untuk menayangkan iklan.
Durasi jeda babak pertama final Piala Dunia 2026 juga menjadi sorotan karena mencapai 27 menit. Durasi tersebut jauh lebih panjang dibandingkan batas maksimal 15 menit yang diatur dalam Laws of the Game.
UEFA memastikan tidak akan mengadopsi sejumlah perubahan regulasi yang diperkenalkan FIFA pada Piala Dunia 2026. Kebijakan yang tidak akan diikuti antara lain interpretasi baru protokol VAR terkait mistaken identity dan aturan yang memungkinkan pemain dikenai sanksi karena menutupi mulut saat berbicara dengan lawan.
Di luar persoalan teknis, Ceferin juga sebelumnya mengkritik strategi penjualan tiket FIFA. UEFA memastikan sekitar 40 persen tiket Euro 2028 akan dijual dalam kategori harga terjangkau, sekitar 30 hingga 60 pound sterling, tanpa menerapkan sistem harga dinamis.
Meski tidak menghadiri final Piala Dunia 2026, Ceferin sebenarnya sempat datang ke pertandingan pembuka turnamen di Mexico City pada 11 Juni. Sikapnya yang kemudian tidak hadir di laga puncak menjadi simbol meningkatnya ketegangan antara UEFA dan FIFA.













