JAKARTA, Cobisnis.com – PT Pertamina Patra Niaga resmi menurunkan harga bahan bakar pesawat atau avtur sebesar 14 persen untuk penerbangan domestik mulai 1 Juli 2026. Penurunan ini membuka peluang harga tiket pesawat menjadi lebih murah dalam waktu dekat.
Harga avtur di Bandara Soekarno Hatta kini menjadi Rp19.190 per liter. Nilai tersebut turun Rp3.000 per liter dibandingkan harga Juni 2026 yang mencapai Rp22.190 per liter sebelum pajak.
Penyesuaian harga dilakukan setelah evaluasi berkala harga BBM nonsubsidi yang mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan biaya operasional maskapai penerbangan.
Pemerhati penerbangan Alvin Lie menilai maskapai seharusnya segera menyesuaikan tarif tiket. Menurutnya, penurunan harga tiket bisa mulai terlihat dalam satu hingga dua hari setelah harga avtur baru berlaku.
Waktu tersebut dibutuhkan maskapai untuk memperbarui sistem penjualan tiket. Setelah sistem diperbarui, tarif baru dapat langsung diterapkan kepada calon penumpang.
Alvin menjelaskan avtur merupakan komponen biaya terbesar dalam operasional maskapai. Porsinya berkisar 35 hingga 50 persen dari total biaya operasi, tergantung model bisnis masing masing maskapai.
Untuk maskapai bertarif rendah atau Low Cost Carrier, kontribusi biaya avtur bahkan mencapai sekitar 50 persen. Sementara secara umum, maskapai di Indonesia mengalokasikan sekitar 40 persen biaya operasional untuk avtur.
Selain avtur, biaya operasional maskapai juga berasal dari sewa atau depresiasi pesawat yang mencapai sekitar 20 hingga 30 persen. Adapun biaya perawatan pesawat menyumbang sekitar 15 persen dari total biaya operasi.
Penurunan harga avtur juga berdampak pada besaran fuel surcharge. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 1041 Tahun 2026, fuel surcharge di Bandara Soekarno Hatta turun menjadi 30 persen dari Tarif Batas Atas, dari sebelumnya 40 persen pada Juni 2026.
Menurut Alvin, kondisi ini tidak hanya meringankan beban operasional maskapai, tetapi juga memperbaiki arus kas perusahaan. Jika tarif tiket ikut turun, jumlah penumpang diharapkan meningkat dan mendorong pemulihan industri penerbangan domestik.













