JAKARTA, Cobisnis.com – Kasus diabetes tipe 2 kini tidak lagi terbatas pada kelompok usia dewasa. Selain itu, penyakit ini mulai ditemukan pada anak usia sekolah menengah pertama (SMP).
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan temuan tersebut dalam agenda kesehatan di Jakarta. Namun, ia menegaskan bahwa faktor keturunan bukan satu-satunya penyebab utama.
Di sisi lain, perubahan gaya hidup menjadi pemicu paling dominan. Aktivitas fisik yang rendah dan pola makan tidak sehat ikut mempercepat risiko penyakit.
Selain itu, kebiasaan duduk lama di depan gawai semakin memperburuk kondisi kesehatan remaja. Akibatnya, risiko gangguan metabolik meningkat lebih cepat.
Sementara itu, penggunaan gawai berlebihan juga berdampak pada kualitas tidur. Kondisi ini turut memengaruhi kesehatan mental anak dan remaja.
Karena itu, pemerintah menekankan pentingnya pencegahan sejak dini. Pemerintah mendorong perubahan pola hidup yang dimulai dari lingkungan keluarga.
Selain itu, kebiasaan sederhana seperti makan bersama dan tidur cukup mulai digalakkan. Pemerintah juga mengajak anak untuk lebih aktif bergerak setiap hari.
Di sisi lain, program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau jutaan pelajar di berbagai daerah. Program ini membantu mendeteksi berbagai masalah kesehatan sejak dini.
Namun, hasil pemeriksaan juga menunjukkan temuan lain seperti hipertensi, anemia, dan gangguan gigi. Kondisi ini memperkuat perhatian pada kesehatan remaja.
Selain itu, pemerintah memperkenalkan sistem label gizi pada produk makanan dan minuman. Sistem ini membantu masyarakat memahami kadar gula dan nutrisi.
Dengan demikian, kasus diabetes pada usia muda menjadi perhatian serius. Perubahan gaya hidup kini menjadi fokus utama pencegahan jangka panjang.













