JAKARTA, Cobisnis.com – Wabah hantavirus di kapal pesiar wilayah Argentina pada awal Mei 2026 memicu kekhawatiran luas di masyarakat. Sebagian mulai bandingkan dengan Covid-19 dan khawatir virus ini bisa jadi pandemi global.
Epidemiolog Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman, menegaskan kekhawatiran itu tidak perlu dibesar-besarkan. Kemungkinan hantavirus berkembang jadi pandemi seperti Covid-19 tergolong sangat kecil.
Perbedaan paling mendasar ada pada cara penularannya. Hantavirus menular dari lingkungan yang terkontaminasi kotoran tikus yang mengering dan terhirup, bukan dari manusia ke manusia.
Memang ada jenis hantavirus yang bisa menular antar manusia secara terbatas. Tapi kasus itu sangat jarang dan tidak tunjukkan pola penyebaran cepat seperti Covid-19.
Hantavirus pertama kali dikenali pada 1976 di Korea Selatan. Virus ini bisa sebabkan gangguan pernapasan berat yang menyerang paru-paru atau dikenal sebagai HPS.
Gejala awalnya mirip flu biasa seperti demam, nyeri otot, lemas, dan mual. Dalam beberapa hari kondisi bisa memburuk cepat menjadi sesak napas berat karena paru-paru terisi cairan.
Fatalitas pada kasus berat bisa capai sekitar 40 persen, terutama jika diagnosis terlambat. Kondisi ini secara medis menyerupai ARDS yang bisa mengancam nyawa.
Untuk Indonesia, Dr. Dicky menilai risiko bagi populasi umum masih relatif rendah. Namun beberapa faktor tetap perlu diwaspadai seperti populasi tikus tinggi, banjir musiman, dan sanitasi yang belum merata.
Kelompok rentan antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, dan petani. Hantavirus juga berpotensi tidak terdiagnosis karena gejalanya mirip leptospirosis, demam berdarah, atau pneumonia berat.
Dr. Dicky imbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi di media sosial. Langkah utamanya adalah jaga kebersihan lingkungan, pastikan rumah bebas tikus, dan pakai masker saat bersihkan area berisiko.













