Data Kpler menyebut gangguan ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern. Pasokan energi global langsung tertekan dan memicu ketidakpastian di pasar minyak dunia.
Kerugian ekonomi dari minyak yang gagal diproduksi diperkirakan mencapai lebih dari US$ 50 miliar atau sekitar Rp 859 triliun. Angka ini mencerminkan dampak besar konflik terhadap stabilitas ekonomi global.
Sebagai gambaran, kehilangan 500 juta barel setara dengan menghentikan penerbangan global selama 10 minggu. Bahkan, jumlah itu juga setara dengan berhentinya penggunaan kendaraan di seluruh dunia selama 11 hari.
Volume minyak tersebut juga hampir menyamai kebutuhan satu bulan di Amerika Serikat dan lebih dari sebulan konsumsi di Eropa. Hal ini menunjukkan skala gangguan yang sangat luas.
Negara-negara Teluk Arab mencatat penurunan produksi hingga 8 juta barel per hari pada Maret 2026. Angka ini mendekati produksi gabungan ExxonMobil dan Chevron.
Ekspor bahan bakar jet juga turun tajam dari 19,6 juta barel menjadi 4,1 juta barel. Penurunan ini berdampak langsung pada sektor penerbangan dan mobilitas global.
Analis Kpler menyebut kerugian ini setara dengan sekitar 1% PDB tahunan Jerman. Skala ini menegaskan dampak ekonomi yang tidak bisa dianggap kecil.
Gangguan pasokan energi ini berpotensi memicu volatilitas harga minyak. Efek lanjutannya dapat dirasakan pada inflasi dan biaya logistik di berbagai negara.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik memiliki dampak langsung terhadap ekonomi global. Stabilitas energi kini menjadi isu yang semakin krusial di tengah ketegangan internasional.