Daftar tersebut mencakup LUCY, AGII, SOTS, IFSH, MGLV, ROCK, RLCO, DSSA, dan BREN. Kepemilikan di saham-saham ini bahkan menembus lebih dari 95%, sehingga porsi publik sangat terbatas.
Struktur kepemilikan yang terlalu terpusat membuat likuiditas saham menjadi rendah. Dampaknya, pergerakan harga cenderung sempit dan rawan tekanan saat terjadi aksi jual.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai keterbukaan ini menjadi sinyal penting bagi investor. Informasi tersebut bisa dijadikan acuan untuk membaca potensi risiko di pasar.
Ia menyebut saham dengan konsentrasi tinggi berpotensi terkoreksi. Namun, penurunan harga biasanya tidak terlalu dalam karena jumlah saham beredar relatif kecil.
Di sisi lain, analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai saham dengan fundamental kuat masih bisa bertahan. Meski begitu, faktor teknikal tetap perlu dicermati.
Menurutnya, status ini juga bisa menahan sentimen positif seperti stock split. Likuiditas yang terbatas membuat dampaknya tidak selalu langsung terasa di pasar.
Saham berkapitalisasi kecil disebut lebih rentan terkena tekanan. Minimnya minat dan volume transaksi membuat harga lebih mudah melemah.
BEI juga menyoroti potensi dampak ke indeks global. Saham dengan kepemilikan terkonsentrasi bisa saja mengalami penurunan bobot atau bahkan keluar dari indeks MSCI.
Meski ada risiko jangka pendek, BEI tetap optimistis dalam jangka panjang. Transparansi ini diyakini dapat memperkuat kualitas pasar dan kepercayaan investor.
Analis merekomendasikan investor tetap selektif. Saham DSSA, BREN, dan RLCO masih disarankan hold dengan mempertimbangkan kondisi pasar.
Strategi keluar juga perlu diperhitungkan dengan matang. Timing menjadi kunci untuk menjaga potensi keuntungan sekaligus meminimalkan risiko.