JAKARTA, Cobisnis.com – Serangan ke fasilitas nuklir Iran di Isfahan yang diduga dilakukan Amerika Serikat memicu eskalasi konflik. Iran langsung membalas dengan menyerang kapal tanker minyak di Teluk Persia.
Ledakan besar terjadi di Isfahan pada dini hari. Kota ini dikenal sebagai pusat fasilitas nuklir penting yang menyimpan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.
Presiden AS Donald Trump membagikan video ledakan yang memperlihatkan bola api besar di langit malam. Serangan ini menandai meningkatnya tensi militer di kawasan.
Washington kemudian menyatakan siap memperluas operasi militer. Tekanan juga diberikan agar Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi dunia.
Sebagai respons, Iran menyerang kapal tanker minyak berbendera Kuwait di perairan Dubai. Kapal tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah bernilai lebih dari 200 juta dolar AS.
Serangan drone menyebabkan kebakaran dan kerusakan pada kapal, meski tidak ada korban jiwa. Insiden ini menambah daftar gangguan keamanan di jalur pelayaran strategis.
Sejumlah negara Teluk turut meningkatkan kewaspadaan. Arab Saudi melaporkan pencegatan rudal, sementara Bahrain mengaktifkan sistem peringatan udara.
Iran menyatakan serangan ditujukan pada kepentingan militer AS. Namun dampaknya meluas karena menyasar sektor energi dan jalur perdagangan global.
Harga minyak Brent melonjak ke sekitar 107 dolar per barel. Kenaikan ini mencapai lebih dari 45 persen sejak konflik memanas pada akhir Februari.
Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia kini menjadi titik krusial. Gangguan di jalur ini meningkatkan tekanan pada pasar energi global.
Dampaknya mulai terasa di berbagai negara. Di Amerika Serikat, harga bensin menembus 4 dolar per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.
Situasi ini menambah tekanan politik sekaligus memperbesar ketidakpastian global. Sementara itu, upaya diplomasi masih berjalan meski belum menemukan titik temu.













