JAKARTA, Cobisnis.com – Jutaan warga Amerika Serikat (AS) turun ke jalan pada Sabtu (28/3/2026) dalam gelombang protes besar bertajuk “No Kings” menolak pemerintahan Donald Trump. Aksi ini berlangsung dari New York hingga California, termasuk wilayah pedesaan Kentucky, dan disebut sebagai salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah modern AS.
Para pengunjuk rasa menyuarakan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan dugaan otoritarianisme Trump, keterlibatan AS dalam konflik Iran, kebijakan imigrasi agresif oleh ICE, dan kenaikan biaya hidup. Lebih dari 3.000 aksi terkoordinasi dilaporkan berlangsung di seluruh 50 negara bagian, dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai 5–7 juta orang.
Di Washington, D.C., massa memadati kawasan National Mall hingga tangga Lincoln Memorial. Demonstran membawa atribut simbolik, termasuk patung Presiden Trump dan pejabat lainnya yang mereka anggap bertindak seolah-olah memiliki kekuasaan absolut.
Di New York City, demonstran mengisi Midtown hingga Times Square, sedangkan di Austin, sebuah patung es bertuliskan “ES MELELEH DI TEXAS” dilelehkan sebagai simbol protes. Di Boston, tugu peringatan didirikan untuk mengenang anak-anak yang tewas dalam serangan rudal di Iran, yang diduga melibatkan AS.
Tuntutan utama yang disuarakan antara lain: mengakhiri tindakan yang dianggap “seperti raja”, membatalkan kebijakan imigrasi agresif, menghentikan keterlibatan dalam perang di Iran, menarik pasukan federal dari kota besar, melindungi hak sipil dan hak pilih, serta mengatasi kenaikan biaya hidup masyarakat.
“Kita memiliki presiden yang di luar kendali,” kata Ken Wyben, seorang veteran dari New York City. Ia menekankan bahwa kepemimpinan sejati harus berada di tangan rakyat, bukan satu figur yang berkuasa seperti raja.
Secara umum, aksi berlangsung damai meski muncul beberapa insiden kecil. Demonstran menyerukan protes ekonomi nasional pada 1 Mei dan mengajak masyarakat untuk tidak bekerja, bersekolah, atau berbelanja sebagai bentuk solidaritas.
Gedung Putih mencoba meredam dampak protes. Seorang juru bicara menyatakan bahwa “satu-satunya orang yang peduli dengan sesi gangguan Trump ini adalah para reporter yang dibayar untuk meliputnya.”
Survei terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Donald Trump menurun ke level terendah sejak ia kembali menjabat sebagai presiden. Aksi “No Kings” menjadi peringatan kuat bagi pemerintahan Trump tentang respons publik terhadap kebijakan dan gaya kepemimpinan kontroversialnya.













