JAKARTA, Cobisnis.com – Lebih dari 90% rudal dan drone Iran berhasil dicegat dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel, namun laporan terbaru menyoroti ketidakseimbangan biaya yang signifikan. Senjata murah Iran justru paling efektif dan menguras rudal pencegat mahal lawan.
Persediaan pencegat di kawasan Timur Tengah mulai menipis. Negara-negara Teluk seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar disebut sudah menggunakan sebagian besar inventaris rudal Patriot mereka. Israel juga dilaporkan mulai melakukan penjatahan penggunaan pencegat tertentu demi menghemat.
Menurut Ari Cicurel dari JINSA, meski tingkat pencegatan tinggi, strategi Iran yang menargetkan infrastruktur energi dan menggunakan “munisi tandan” membuat tekanan tetap konstan dan merusak pasar energi. Serangan bertubi-tubi diganti dengan serangan lebih kecil namun konsisten, memaksa pihak bertahan selalu waspada.
Danny Citrinowicz, pakar Timur Tengah, menyoroti ketidakseimbangan biaya: drone Iran seharga $30.000 dipaksa dicegat rudal jutaan dolar dari sistem Arrow atau Patriot. Hal serupa berlaku pada rudal balistik yang relatif murah namun memicu penggunaan pencegat mahal secara terus-menerus.
Drone menimbulkan tantangan berbeda dari rudal balistik. Dapat diluncurkan dari platform bergerak, terbang rendah, dan sulit dideteksi, drone seperti Shahed-136 hanya membutuhkan pikap untuk peluncuran, memungkinkan penyebaran cepat dan fleksibel.
Iran juga mengadopsi pelajaran dari konflik Ukraina, dengan menghadirkan drone lebih canggih, termasuk yang dipandu kabel serat optik untuk kebal gangguan elektronik, serta varian cepat berbahan bakar jet.
Meskipun ada tantangan ini, arsitektur pertahanan AS-Israel-Arab masih bertahan. Namun alur perang bergerak ke arah yang menguras persediaan pencegat lebih cepat daripada produksi senjata pertahanan baru.
Laporan JINSA memperingatkan jika tren ini berlanjut, negara-negara di kawasan harus memperhitungkan kembali strategi persediaan senjata dan prioritas pertahanan. Dinamika ini menunjukkan perang modern tak hanya soal jumlah target, tapi juga efisiensi biaya dan adaptasi taktik.
Dalam konteks ekonomi dan keamanan regional, serangan kecil namun berulang mampu menekan pasar energi dan memicu risiko keamanan bagi negara-negara Timur Tengah. Strategi ini menjadi pelajaran penting bagi negara-negara dengan sistem pertahanan canggih namun mahal.
Ketegangan di kawasan masih tinggi, dan pengamat menekankan pentingnya diplomasi dan mitigasi risiko. Serangan drone dan rudal murah yang efektif menunjukkan perang modern bukan hanya soal teknologi tercanggih, tetapi juga inovasi taktis lawan.













