JAKARTA, Cobisnis.com – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai berdampak luas ke sektor energi global, mendorong China mengambil peran strategis di kawasan Asia Tenggara.
Gangguan aliran minyak dan gas akibat konflik di Timur Tengah membuat sejumlah negara di Asia Tenggara menghadapi tekanan serius terhadap pasokan energi.
Pemerintah di kawasan ini mulai menerapkan berbagai langkah, mulai dari penghematan energi hingga peningkatan subsidi untuk menjaga stabilitas domestik.
China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, menyatakan kesiapan untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan keamanan energi.
Langkah ini dinilai sebagai upaya China untuk tampil sebagai aktor stabilisator di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Sejumlah negara di Asia Tenggara bahkan telah mengambil langkah ekstrem, seperti Filipina yang menetapkan status darurat energi nasional selama satu tahun.
Kebijakan tersebut diikuti dengan pembatasan penggunaan energi serta penyesuaian sistem kerja di sektor pemerintahan untuk menekan konsumsi.
Negara lain seperti Vietnam, Thailand, dan Indonesia juga melakukan berbagai strategi mitigasi, termasuk subsidi tambahan dan diversifikasi sumber energi.
Meski beberapa negara seperti Malaysia dan Brunei merupakan eksportir energi, mereka tetap terdampak oleh inflasi dan gangguan rantai pasok global.
Di sisi lain, kawasan Asia mulai meningkatkan impor energi dari Rusia sebagai alternatif pasokan di tengah ketidakpastian dari Timur Tengah.
China memanfaatkan momentum ini dengan memperkuat narasi sebagai pendukung stabilitas, perdagangan bebas, dan kerja sama multilateral.
Namun, pendekatan ini juga disertai kehati-hatian, karena China berupaya tidak terseret langsung dalam konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran.
Di tengah krisis ini, sektor energi terbarukan semakin mendapat perhatian, di mana China memiliki keunggulan dalam investasi kendaraan listrik, baterai, dan proyek energi hijau.
Situasi ini membuka peluang jangka panjang bagi China untuk memperluas pengaruh ekonomi dan politiknya di Asia Tenggara.













