JAKARTA, Cobisnis.com – Harga bensin di Iran menjadi sorotan dunia setelah tercatat sebagai salah satu yang termurah, hanya sekitar Rp481 per liter di tengah tekanan embargo Barat.
Angka ini menempatkan Iran di posisi kedua negara dengan harga bensin termurah di dunia, tepat di bawah Libya yang berada di kisaran Rp398 per liter.
Kondisi ini menjadi kontras dengan situasi global, di mana banyak negara justru menghadapi lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian pasokan.
Di Iran, pemerintah menerapkan sistem subsidi energi yang sangat besar untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya dalam kebutuhan bahan bakar.
Warga Iran mendapatkan jatah subsidi sekitar 60 liter bensin per bulan dengan harga berkisar Rp450 hingga Rp500 per liter, jauh di bawah harga pasar internasional.
Jika konsumsi melebihi batas tersebut, harga bensin naik menjadi sekitar Rp900 hingga Rp1.000 per liter, namun tetap tergolong murah dibanding banyak negara lain.
Kebijakan ini dimungkinkan karena Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dengan cadangan energi yang melimpah.
Meski menghadapi sanksi ekonomi dari negara-negara Barat selama puluhan tahun, Iran tetap memprioritaskan stabilitas harga energi domestik.
Dari sisi sosial, harga BBM yang rendah membantu menjaga biaya hidup masyarakat tetap terkendali, terutama untuk transportasi sehari-hari.
Namun di sisi lain, subsidi besar juga menjadi beban bagi anggaran negara dan berpotensi menekan efisiensi konsumsi energi.
Secara ekonomi, strategi ini menunjukkan bagaimana negara dengan sumber daya energi besar dapat mempertahankan kebijakan harga domestik meski berada di bawah tekanan eksternal.
Fenomena ini sekaligus menjadi gambaran kompleks hubungan antara geopolitik, sumber daya alam, dan kebijakan ekonomi dalam menentukan harga energi di suatu negara.













