JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level US$115 per barel di tengah memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pasar global khawatir perang yang terus meluas akan mengganggu pasokan energi dunia dalam waktu yang lebih lama.
Lonjakan harga terjadi karena meningkatnya risiko gangguan distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 11.05 WIB, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 diperdagangkan di level US$115,25 per barel. Angka ini melonjak sekitar US$24,35 atau naik sekitar 26,79% dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga minyak Brent yang menjadi acuan utama pasar energi global juga naik tajam. Kontrak Brent untuk pengiriman Mei 2026 tercatat berada di level US$115,82 per barel atau meningkat sekitar US$23,13 setara kenaikan 24,95%.
Kenaikan harga minyak tersebut dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ketegangan yang terus berkembang membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Sejak pekan lalu, sebagian besar aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terhenti. Kondisi ini membuat jalur distribusi minyak dunia mengalami tekanan karena banyak kapal memilih menunda atau menghindari rute tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur ini sebelum dikirim ke berbagai negara konsumen.
Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi menyebabkan lonjakan harga energi bagi konsumen dan pelaku industri di berbagai negara. Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor energi, tetapi juga pada biaya logistik dan transportasi global.
Analis dari Peterson Institute for International Economics, Adnan Mazarei, menilai lonjakan harga minyak ini merupakan respons pasar terhadap risiko konflik yang berkepanjangan. Ia menilai pasar mulai menyadari bahwa ketegangan di kawasan tersebut tidak akan mereda dalam waktu singkat.
Selain minyak mentah, kenaikan harga energi juga dapat memengaruhi berbagai produk turunan penting. Bahan bakar jet, pupuk berbasis gas, hingga biaya transportasi global berpotensi mengalami kenaikan jika harga energi terus meningkat.
Pasokan energi dari kawasan Teluk selama ini menjadi sumber penting bagi banyak negara di Asia. Situasi konflik membuat sejumlah negara mulai mencari alternatif pasokan energi untuk menjaga stabilitas kebutuhan dalam negeri.
Ketidakpastian ini juga memicu perubahan rute pengiriman energi global. Beberapa kapal tanker yang sebelumnya menuju Eropa dilaporkan berbalik arah di tengah Atlantik untuk mengalihkan pasokan ke wilayah lain yang membutuhkan.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, pasar energi global diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi volatil. Harga minyak berpotensi terus bergerak naik seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dunia.













