JAKARTA, Cobisnis.com – Serangan udara yang dilakukan oleh Israel menargetkan depot bahan bakar di ibu kota Teheran dan memicu kebakaran besar yang menghasilkan kepulan asap hitam tebal. Serangan tersebut terjadi pada Sabtu (7/3/2026) dan dampaknya masih terlihat hingga keesokan harinya.
Asap tebal terlihat terus membumbung dari area depot minyak Sharan pada Minggu (8/3/2026). Di sejumlah titik, api masih menyala di antara fasilitas kilang yang mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Di sekitar lokasi kejadian, tampak puing-puing bangunan serta kendaraan tangki minyak yang hangus terbakar. Pihak perusahaan distribusi minyak Iran melaporkan empat pekerja meninggal dunia akibat insiden tersebut.
Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan berbahaya yang berpotensi memperburuk konflik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menilai serangan terhadap fasilitas energi sipil dapat memicu dampak serius, termasuk pencemaran udara akibat zat berbahaya yang dilepaskan ke atmosfer.
Selain korban jiwa, otoritas energi Iran juga memberlakukan pembatasan distribusi bahan bakar di beberapa wilayah sebagai langkah untuk menjaga ketersediaan pasokan secara merata.
Sementara itu, pihak militer Israel memberikan penjelasan berbeda mengenai serangan tersebut. Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa fasilitas yang diserang dianggap sebagai target militer yang sah.
Menurutnya, depot tersebut diduga digunakan untuk mendukung kegiatan militer Iran, termasuk memproduksi atau menyimpan bahan pendorong untuk rudal balistik.
Tak lama setelah serangan terjadi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pemerintahnya akan terus melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Ia juga menyatakan bahwa serangan terhadap target yang dianggap mendukung kekuatan militer Iran akan terus dilakukan.
Peristiwa ini menandai meningkatnya ketegangan antara kedua negara dan menimbulkan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.













