JAKARTA, Cobisnis.com – China dilaporkan mulai menunjukkan sinyal dukungan kepada Iran di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Dukungan tersebut disebut-sebut mencakup bantuan finansial, pasokan suku cadang, hingga komponen yang berkaitan dengan sistem persenjataan rudal.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Beijing sebelumnya berupaya menjaga jarak dari keterlibatan langsung dalam konflik tersebut. Meski demikian, pejabat Amerika Serikat kini mulai memantau secara serius kemungkinan perubahan sikap China terhadap Iran.
China diketahui menjadi salah satu pembeli utama minyak mentah dari Iran. Di saat yang sama, pemerintah Beijing juga meminta Teheran untuk memastikan keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute penting distribusi energi dunia.
Seorang sumber intelijen menyebutkan bahwa China masih berhati-hati dalam memberikan dukungan kepada Iran. Konflik yang terus meluas dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi yang sangat dibutuhkan oleh perekonomian China.
Laporan tersebut juga mengungkap dugaan keterlibatan Rusia yang disebut memberikan bantuan berupa citra satelit serta informasi intelijen terkait posisi dan pergerakan pasukan Amerika Serikat kepada Iran. Namun hingga kini, Central Intelligence Agency atau CIA belum memberikan tanggapan atas informasi tersebut.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah serangan drone Iran di Kuwait pekan lalu dilaporkan menewaskan enam tentara Amerika Serikat dan melukai beberapa lainnya. Iran juga disebut telah meluncurkan ribuan drone tempur serta ratusan rudal yang menargetkan fasilitas militer, kantor diplomatik, dan sejumlah titik strategis yang berkaitan dengan Amerika Serikat.
Sebagai balasan, operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menghantam lebih dari dua ribu lokasi di wilayah Iran. Situasi tersebut membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas.
Konflik yang terus berlangsung tidak hanya menimbulkan kerusakan besar, tetapi juga meningkatkan jumlah korban jiwa di berbagai wilayah. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat internasional terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.











