JAKARTA, Cobisnis.com – Sejumlah saham sektor minyak dan gas (migas) mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin pagi, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok lebih dari 2%.
Pada pukul 09.21 WIB, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) memimpin kenaikan dengan lonjakan 13,53% ke level 965. Disusul PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang menguat 9,66% ke 1.930 serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang naik 8,99% ke posisi 1.880.
Penguatan juga terjadi pada PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang terapresiasi 5,43% ke 680 dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang naik 2,51% ke level 2.450.
Sebaliknya, IHSG dibuka melemah 142,58 poin atau turun 1,73% ke 8.092,90. Tak lama setelah pembukaan, tekanan jual makin dalam hingga indeks sempat terkoreksi lebih dari 2%. Dari total saham yang diperdagangkan, 556 terkoreksi, 56 menguat, dan 103 stagnan. Nilai transaksi pagi mencapai Rp708,27 miliar dengan volume 976,34 juta saham dalam 104.578 kali transaksi.
Sentimen Geopolitik Jadi Pemicu
Penguatan saham migas terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Langkah Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia serta volume besar gas alam—menambah tekanan terhadap rantai pasok energi. Kondisi ini mendorong lonjakan harga komoditas energi di pasar internasional.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus level US$72 per barel, mendekati posisi tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Kenaikan harga minyak tersebut menjadi katalis positif bagi saham-saham migas, khususnya emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap harga energi global.
Selama harga minyak bertahan di level tinggi, prospek peningkatan pendapatan dan margin dinilai menjadi daya tarik bagi investor. Pergeseran arus dana ke aset berbasis komoditas dan instrumen lindung nilai (safe haven) pun semakin terlihat di tengah tekanan terhadap pasar saham domestik secara keseluruhan.













