JAKARTA, Cobisnis.com – K-pop di Kolombia kini berkembang menjadi fenomena global yang membentuk komunitas, kompetisi, hingga diplomasi budaya di Amerika Latin.
Musik berhenti lalu diputar kembali di dalam sebuah studio tari di ibu kota Kolombia, Bogotá. Para penari menghitung dengan lantang, menyempurnakan transisi gerakan hingga larut malam.
V14 merupakan salah satu dari banyak studio tari di kota tersebut yang dikenal melatih gaya urban seperti Reggaeton. Namun malam itu, koreografi yang memenuhi ruangan justru berasal dari belahan dunia lain.
Empire, grup tari campuran beranggotakan tujuh orang, tengah berlatih rutin K-pop sebagai bagian dari gerakan yang terus berkembang di kalangan penari Kolombia yang berlatih, berkompetisi, dan membangun komunitas di sekitar musik pop Korea. Di seluruh Amerika Latin, koneksi ini berkembang pesat meskipun berasal dari ribuan kilometer jauhnya.
“Kami sebagai orang Latin suka berpesta, kami suka menikmati musik,” ujar Johanna Valentina Espinosa, pemimpin Empire yang tampil dengan nama panggung Vay. “K-pop membawa rasa persahabatan dan kebersamaan itu.”
Dari Fandom Menjadi Partisipasi Aktif
K-pop telah hadir di Kolombia dan Amerika Latin selama lebih dari satu dekade. Konser dari grup seperti ATEEZ dan NCT 127 sukses menarik ribuan penggemar di Bogotá. Tahun ini, negara tersebut dijadwalkan untuk pertama kalinya menyambut fenomena boy group BTS. Momen ini menjadi tonggak penting bagi penggemar lokal sekaligus bukti bahwa Amerika Latin kini semakin diperhitungkan dalam tur global K-pop.
Di tingkat akar rumput, media sosial membantu fandom berevolusi menjadi komunitas budaya yang terorganisasi dan terlihat. Penari K-pop di Kolombia kini tidak lagi sekadar menjadi konsumen, tetapi juga pelaku aktif.
Ajang seperti K-Pop World Festival yang didukung kedutaan Korea di berbagai negara turut memberi struktur dan visibilitas bagi para penampil lokal. Di Kolombia, kompetisi tahunan ini menarik penari dari seluruh negeri dan menjadi titik temu komunitas K-pop. Meski hanya sedikit tim yang melaju ke final di Korea Selatan, acara ini memperkuat hubungan antara penggemar, penampil, dan institusi budaya.
Pertukaran Budaya Dan Diplomasi
Fenomena ini menjadi bagian dari upaya lebih luas Kedutaan Besar Republik Korea untuk mempromosikan budaya Korea melalui musik, film, televisi, fesyen, dan kuliner dalam kerangka Hallyu atau “Gelombang Korea”.
“Hallyu lebih dari sekadar aset budaya,” ujar Kyungho Park, Sekretaris Kedua di Kedutaan Korea Selatan di Kolombia. “Ini adalah aset strategis yang meningkatkan citra nasional Korea dan mendorong pertukaran antar masyarakat.”
Pengaruh tersebut bahkan melampaui hiburan. Sofía Alfonso Gaitán dari bagian Kebudayaan, Pendidikan, dan Kerja Sama Internasional kedutaan mencatat bahwa banyak peserta kompetisi K-pop kemudian mendaftar beasiswa untuk belajar di luar negeri, mengubah aktivitas dance cover menjadi aspirasi jangka panjang.
Jaringan Regional Yang Menguat
Di atap pusat perbelanjaan Plaza Claro, anggota grup pria Double Blade berlatih formasi dengan latar cakrawala kota, menarik perhatian pengunjung. Adegan serupa terjadi di berbagai sudut kota, di mana ruang publik menjadi bagian penting budaya tari K-pop.
Bagi banyak penari, K-pop menjadi lebih dari sekadar hobi selama masa pandemi. Saat studio ditutup dan acara dibatalkan, media sosial menjadi panggung sekaligus ruang komunitas.
“Saya rasa K-pop semakin populer di Kolombia karena setelah pandemi banyak hal berubah dan gelombang K-pop tumbuh pesat,” ujar Juan Pablo García alias Jwamp, anggota Double Blade.
Beberapa lainnya menilai daya tarik K-pop tidak hanya terletak pada lagu yang catchy atau koreografi yang sulit.
“Bukan hanya musik atau tariannya, tapi keseluruhan sistem K-pop yang membuatnya berkembang di Kolombia,” kata Jorge David Galviz alias Danny.
Sentuhan Latin Dalam Dunia K-Pop
Anggota Empire menyadari adanya stereotip bahwa K-pop tidak selalu dianggap serius, namun mereka menolak anggapan tersebut.
“Ada stigma bahwa K-pop tidak dianggap serius, tapi kami memperlakukannya seperti bentuk seni lainnya,” ujar Juliana León Monroy.
Sebagian penari juga terinspirasi melihat artis Latin mulai mendapat tempat di industri K-pop. Salah satu contohnya adalah Santos Bravos, boy group Latin yang dikembangkan di bawah label milik BTS, HYBE, sebagai bagian dari ekspansi global. Selain itu, girl group global KATSEYE juga menarik perhatian setelah nominasi Grammy mereka tahun ini, menunjukkan bagaimana artis yang dilatih dengan sistem K-pop mampu menembus arus utama global.
Kedua grup tersebut dijadwalkan tampil di edisi ke-15 Festival Estéreo Picnic di Bogotá pada Maret tahun ini. Festival tersebut merupakan salah satu ajang musik terbesar di Amerika Latin, dengan penampil utama seperti Tyler, The Creator dan Sabrina Carpenter.
Visibilitas Amerika Latin Meningkat
Peran Amerika Latin dalam ekspansi global K-pop kini semakin jelas. Perusahaan promotor besar seperti Studio PAV yang memiliki kantor di Bogotá dan Mexico City, serta pusat di Seoul dan Amerika Serikat, menilai kawasan ini kini telah mapan dalam peta tur global. Di Meksiko, tiket konser BTS terjual habis dalam waktu kurang dari satu jam, bahkan mendorong Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum untuk secara terbuka meminta penambahan jadwal konser.
Bagi anak muda di Bogotá dan seluruh Amerika Latin yang telah mencurahkan energi mereka untuk K-pop mulai dari menari hingga membangun komunitas pengakuan global ini menjadi sinyal bahwa budaya yang mereka bangun secara lokal kini mendapat tempat di panggung dunia.













