JAKARTA, Cobisnis.com – Di tengah jalanan indah Kota Lisbon, tepatnya di Travessa da Tapada yang mudah terlewatkan, berdiri sebuah toko ayam panggang sederhana tanpa papan nama. Beralamat di nomor 5A, toko kecil bercat pintu hijau itu justru menjadi destinasi wajib bagi wisatawan asal China yang rela menempuh ribuan kilometer demi mencicipi kelezatannya.
Di balik pintu tanpa tanda tersebut, António Silva (66) bekerja seorang diri di sebuah churrasqueira tradisional Portugal kedai panggang arang sederhana yang terkenal dengan ayam panggangnya. Di dalam ruangan sempit berubin krem, Silva memanggang ayam yang dibelah dan dibentangkan di atas bara menyala, sementara asap tipis memenuhi kaca depan toko.
Dalam beberapa tahun terakhir, antrean wisatawan sebagian besar dari China hampir tak pernah putus. Mereka berdiri di luar, mengenakan mantel tebal musim dingin, sambil merekam aktivitas Silva melalui jendela berkabut untuk dibagikan di media sosial.
Fenomena ini bermula sekitar dua tahun lalu. Awalnya hanya satu pelanggan asal China yang datang. Keesokan harinya bertambah satu, lalu semakin banyak, hingga akhirnya mayoritas pelanggan Silva adalah wisatawan dari Negeri Tirai Bambu.
Lonjakan popularitas itu diyakini berasal dari platform media sosial China bernama Xiaohongshu atau RedNote, aplikasi mirip TikTok yang kerap menjadi panduan wisata kuliner bagi traveler muda. Dari sana, alamat kecil di sudut Lisbon ini masuk dalam daftar “wajib dikunjungi.”
Ayam panggang racikan Silva memiliki cita rasa asap yang kuat dari arang, kulit renyah, daging yang tetap juicy, serta bumbu khas dengan sentuhan manis dan asin yang seimbang. Tambahan saus pedas piri-piri khas Portugal memberikan sensasi pedas yang perlahan menghangatkan, bukan membakar.
Silva sendiri tidak aktif di media sosial. Ia tidak memiliki Facebook maupun Instagram. Pesanan hanya diterima lewat telepon rumah model lama dengan dial putar. Pembayaran pun sebagian besar dilakukan secara tunai, bahkan sering menggunakan pecahan 200 euro yang langsung dibawa wisatawan dari bandara.
Meski tokonya mendunia, Silva tetap memegang prinsip lama: pelanggan tetap didahulukan. Jika ada warga lokal yang memesan lebih dulu, ia akan langsung melayani mereka meski antrean turis mengular di depan pintu.
Setiap hari, ia memastikan hanya menggunakan ayam segar tanpa sisa hari sebelumnya. Bumbu rahasianya pun tak pernah berubah sejak akhir 1970-an. “Saya membuat bumbu ini, dan sejak itu tidak pernah saya ubah,” ujarnya.
Popularitasnya bahkan membuat sebagian pelanggan menyebutnya sebagai “kakek pemanggang ayam” dalam ulasan daring. Banyak wisatawan datang langsung dari bandara dengan koper di tangan, hanya untuk membawa pulang sekantong ayam hangat berlogo ayam jago.
Namun, kisah ini mungkin tak berlangsung lama. Silva mengungkapkan rencananya untuk pensiun pada Mei mendatang. Kedua anaknya tidak berniat melanjutkan usaha tersebut. Jika bara terakhir padam, aroma ayam panggang yang telah mengundang pelancong lintas benua itu mungkin ikut menghilang dari sudut kecil Lisbon.













