Cobisnis.com – Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2021 akan tetap sulit jika kebijakan penanganan pandemi tidak tepat. Pandemi, kata dia, memukul perekonomian nasional yang berdampak sangat besar. Itu sebabnya kebangkitan ekonomi pada 2021 dimulai dari proses penanganan kebijakan pandemi yang tepat.
“Krisis kesehatan memang memengaruhi pemulihan ekonomi, tapi tindakan yang tepat dalam menangani kesehatan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi,” ujar Anis dalam sebuah Webinar, Rabu (30 Desember 2020).
Jika melihat evaluasi ekonomi tahun 2020, Anis menyebut sangat kecil kemungkinan Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan positif pada 2021. Sejumlah lembaga internasional telah meyakini pada 2020, perekonomian Indonesia akan tumbuh negatif.
Dana Moneter Internasional (IMF), pada Oktober lalu merevisi outlook ekonomi Indonesia menjadi -1,5 persen lebih rendah dibanding sebelumnya (Juni) yang memprediksikan tumbuh 0,3 persen.
Bank Pembangunan Asia (ADB) juga memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2020 tumbuh negatif -1,0 persen. Lembaga pemeringkat kredit seperti S&P dan Fitch Rating juga memproyeksikan pada 2020 tumbuh negatif 1,1 persen dan 2,0 persen.
“Pemerintah dalam APBN tahun 2021 beserta sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar di level 4 hingga 6 persen. Pertumbuhan yang relatif tinggi ini tentunya karena faktor baseline-nya yang memang rendah,” jelas Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan ini.
“Meski demikian, potensi pertumbuhan ini masih berisiko tertarik kebawah akibat risiko pandemi yang masih bergerak eksponsial dan efektivitas kinerja pemerintah yang rendah.”
Anis mengatakan terdapat dua kebijakan utama yang akan berpengaruh pada pencapaian outlook ekonomi tahun 2021: Vaksin dan efektivitas kebijakan ekonomi pemerintah.
Banyak analisis telah mengkaitkan antara pemulihan ekonomi dengan pelaksanaan vaksin Covid-19, dimana pemulihan ekonomi sangat bergantung pada keberhasilan vaksin.
Berikutnya, ujar dia, penting untuk menjaga agar ekonomi mampu bertahan dan terakselerasi di tengah pandemi. Untuk itu, efektivitas kebijakan ekonomi dalam menjaga daya tahan ekonomi dengan mendongkrak faktor permintaan (demand) sangat krusial.
“Faktor demand ini, terkait demand untuk konsumsi baik rumah tangga, pemerintah, maupun untuk kebutuhan investasi berbagai sektor ekonomi. Peran belanja APBN, belanja PEN, Belanja BUMN, serta penyaluran kredit dan pembiayaan dari perbankan sangat penting untuk dipacu,” ujarnya.














