JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut energi angin sebagai pilihan “untuk orang bodoh” dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos bulan lalu. Namun hanya lima hari setelah pernyataan tersebut, sembilan negara Eropa menandatangani kesepakatan untuk membangun pusat tenaga angin lepas pantai raksasa di Laut Utara.
Kesepakatan itu dicapai dalam North Sea Summit di Jerman dan melibatkan Belgia, Denmark, Prancis, Jerman, Irlandia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, dan Inggris. Proyek tersebut digadang-gadang menjadi pusat energi bersih terbesar di dunia dengan kapasitas produksi hingga 100 gigawatt listrik tenaga angin cukup untuk memasok sekitar 50 juta rumah.
Langkah ini bukan respons langsung terhadap pernyataan Trump, tetapi mencerminkan perubahan besar arah kebijakan energi Eropa. Di tengah ketergantungan tinggi pada impor energi, proyek ini dipandang sebagai upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas dari Amerika Serikat.
Ketergantungan Energi Dan Tekanan Geopolitik
Uni Eropa saat ini mengimpor hampir 60% kebutuhan energinya. Produksi gas domestik menurun, termasuk penutupan ladang gas besar di Belanda akibat risiko gempa bumi, serta penurunan produksi di kawasan Laut Utara.
Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Rusia mengurangi pasokan gas ke Eropa, menyebabkan lonjakan harga energi dan krisis biaya hidup. Eropa kemudian mengalihkan ketergantungan dari Rusia ke Amerika Serikat, dengan hampir 60% impor LNG (gas alam cair) pada 2025 berasal dari AS. Namun, di bawah pemerintahan Trump, hubungan energi transatlantik dinilai semakin tidak stabil. Pemerintahannya bahkan mengkritik kebijakan energi bersih Eropa dan menegaskan bahwa ekspor energi AS dapat menjadi alat proyeksi kekuatan geopolitik.
Energi Terbarukan Jadi Tulang Punggung Baru
Berbeda dengan Amerika Serikat yang kini lebih fokus pada bahan bakar fosil, Eropa justru mempercepat investasi energi terbarukan. Pada 2025, energi angin dan surya menghasilkan 30% listrik Uni Eropa, melampaui bahan bakar fosil untuk pertama kalinya. Energi angin sendiri menyumbang 19% dari total listrik UE.
Laut Utara disebut sebagai kawasan paling menjanjikan di dunia untuk pengembangan ladang angin lepas pantai, berkat perairannya yang relatif dangkal dan kondisi angin yang kuat.
Para analis menilai bahwa energi bersih kini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan soal keamanan, biaya, dan politik. Skala besar proyek ladang angin ini diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan konektivitas energi antarnegara. Ironisnya, retorika keras Trump terhadap energi terbarukan justru dinilai mempercepat konsolidasi Eropa menuju kemandirian energi berbasis sumber daya bersih.













