JAKARTA, Cobisnis.com – Dunia Fantasi (Dufan) dikenal luas sebagai taman hiburan tematik terbesar di Indonesia dan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jakarta. Meski populer sejak puluhan tahun lalu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui siapa pihak yang sebenarnya memiliki dan mengelola Dufan. Apakah sepenuhnya milik pemerintah, swasta, atau hasil kerja sama keduanya?
Berikut penjelasan lengkap mengenai kepemilikan Dufan beserta sejarah dan ekosistem bisnis yang menaunginya.
Dufan di Bawah Pengelolaan Korporasi Terbuka
Operasional Dunia Fantasi berada di bawah PT Taman Impian Jaya Ancol, yang merupakan anak usaha dari PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA). Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham PJAA dan menjadi entitas utama pengelola kawasan wisata Ancol.
Adapun komposisi kepemilikan saham PJAA terdiri dari:
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta: 72 persen
PT Pembangunan Jaya: 18,01 persen
Publik: 9,99 persen
Dengan struktur tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pemprov DKI Jakarta menjadi pemegang kendali utama, sekaligus pemilik mayoritas Dufan melalui perusahaan daerah yang tercatat di pasar modal.
Peran Swasta: PT Pembangunan Jaya dan Grup Ciputra
Meski Pemprov DKI Jakarta menjadi pemegang saham terbesar di PJAA, peran sektor swasta tetap signifikan. Salah satunya melalui PT Pembangunan Jaya, perusahaan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dan Grup Ciputra.
Komposisi saham PT Pembangunan Jaya adalah:
Grup Ciputra: 61,2 persen
Pemprov DKI Jakarta: 38,8 persen
Kolaborasi ini menjadikan pengelolaan Ancol, termasuk Dufan, sebagai contoh nyata kemitraan pemerintah dan swasta yang berkelanjutan sejak awal pembangunan.
Dari Rawa Menjadi Kawasan Wisata Terpadu
Sebelum menjadi pusat hiburan, kawasan Ancol merupakan area rawa-rawa di pesisir utara Jakarta. Transformasi besar-besaran dimulai ketika pemerintah DKI Jakarta menggagas pembangunan kawasan wisata terpadu dengan menggandeng pihak swasta.
Dufan sendiri resmi dibuka pada 29 Agustus 1985 dan sejak awal mengusung konsep edutainment, yakni perpaduan hiburan dan edukasi. Maskot bekantan dipilih untuk merepresentasikan karakter ramah dan ceria yang melekat pada taman hiburan ini.
Lebih dari Sekadar Taman Bermain
Dufan hanyalah satu bagian dari luasnya kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Di area yang sama, pengunjung juga dapat menikmati berbagai destinasi lain seperti:
Sea World Ancol
Ocean Dream Samudra
Atlantis Water Adventure
Faunaland
Pantai Ancol
Kereta Gantung
Museum Seni
Seluruh fasilitas ini berada dalam satu ekosistem bisnis yang dikelola secara profesional oleh PJAA dan anak-anak usahanya.
Wahana Ikonik yang Melekat di Ingatan Publik
Sebagai taman hiburan tematik, Dufan memiliki lebih dari 30 wahana yang terbagi untuk anak-anak, keluarga, hingga pencari adrenalin. Beberapa wahana yang telah menjadi ikon antara lain:
Halilintar
Kora-Kora
Niagara-Gara
Istana Boneka
Bianglala dengan panorama Teluk Jakarta
Keberadaan wahana-wahana ini turut mengukuhkan Dufan sebagai destinasi hiburan lintas generasi.
Bisnis PJAA yang Terus Berkembang
Selain mengelola kawasan wisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk juga memiliki sejumlah anak perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari rekreasi hingga infrastruktur. Beberapa di antaranya adalah:
PT Jaya Ancol
PT Sarana Tirta Utama
PT Seabreex Indonesia
PT Jaya Ancol Pratama Tol
Hal ini menunjukkan bahwa PJAA merupakan perusahaan dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi, tidak terbatas pada sektor hiburan semata.
Menjawab pertanyaan banyak orang, Dunia Fantasi Ancol pada dasarnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, dengan dukungan kuat dari sektor swasta, khususnya Grup Ciputra, sebagai mitra strategis.
Model kepemilikan ini menjadi contoh sukses kerja sama pemerintah dan swasta dalam mengelola aset publik, sekaligus menghadirkan kawasan wisata berstandar internasional yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.














