JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat mengumumkan sayembara US$10 juta untuk informasi keberadaan Mojtaba Khamenei di tengah laporan bahwa Rusia telah lebih dulu mengamankannya.
Departemen Luar Negeri AS secara resmi merilis hadiah senilai US$10 juta atau sekitar Rp170 miliar. Langkah ini diambil karena kesulitan melacak keberadaan Mojtaba yang disebut sebagai figur penting dalam kepemimpinan Iran saat ini.
Sayembara tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat berupaya mempersempit ruang gerak tokoh yang dinilai strategis dalam dinamika politik Iran.
Namun di saat yang sama, muncul laporan yang menyebut Rusia telah mengambil langkah lebih cepat. Presiden Vladimir Putin dikabarkan menginisiasi evakuasi Mojtaba ke wilayah Rusia secara diam-diam.
Informasi yang beredar menyebut Mojtaba diterbangkan menggunakan pesawat militer Rusia. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan sekaligus memberikan akses perawatan medis setelah mengalami luka dalam sebuah serangan.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah anggota keluarganya. Kondisi ini memperkuat alasan pemindahan ke luar Iran, mengingat potensi ancaman lanjutan terhadap fasilitas medis di dalam negeri.
Kekhawatiran terhadap serangan lanjutan, termasuk dari konflik yang melibatkan AS dan Israel, menjadi faktor penting dalam keputusan tersebut. Rusia dinilai ingin menghindari risiko jika Mojtaba dirawat di wilayah yang masih rawan.
Situasi ini menciptakan kontras tajam antara dua kekuatan global. Di satu sisi, Amerika Serikat menawarkan imbalan besar untuk mendapatkan informasi, sementara di sisi lain Rusia justru memberikan perlindungan.
Dari perspektif geopolitik, langkah Rusia bisa dibaca sebagai sinyal dukungan terhadap Iran. Hal ini berpotensi memperkuat blok aliansi yang selama ini berseberangan dengan kepentingan Barat.
Sementara itu, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Rusia maupun Iran terkait laporan pemindahan tersebut. Informasi yang beredar masih bersifat klaim dari berbagai sumber yang belum sepenuhnya terverifikasi.
Kondisi ini membuat situasi semakin kompleks dan penuh spekulasi. Publik internasional menunggu kejelasan fakta di tengah derasnya informasi yang berkembang.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga melalui pergerakan strategis tokoh-tokoh kunci di balik layar.













