JAKARTA, Cobisnis.com – Siapa yang tidak ingin hidup lebih lama? Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam sebuah konferensi “longevity” besar yang saya hadiri di Amerika Serikat. Di sana, berbagai janji hidup panjang dan awet muda ditawarkan mulai dari pil revolusioner, terapi cahaya, penggantian plasma darah, hingga teknologi futuristik bernilai ratusan ribu dolar.
Namun setelah tiga hari berkeliling, berbincang dengan para ahli, dan menyimak berbagai klaim ilmiah, satu kesimpulan justru semakin menguat: rahasia hidup lebih lama sebenarnya bukan hal baru, bukan pula rahasia mahal.
Konferensi Eudēmonia Summit di West Palm Beach, Florida, yang tiketnya bisa mencapai US$5.000, dipenuhi ribuan peserta mayoritas justru anak muda usia 20–30-an. Mereka datang untuk mendengar podcaster kesehatan populer, pakar biohacking, hingga selebritas yang mengusung gaya hidup awet muda.
Ratusan stan memamerkan suplemen, terapi peptida, NAD+, air hidrogen, alat getar, kursi meditasi futuristik, hingga mesin cahaya yang diklaim mampu “meregenerasi sel”. Banyak di antaranya dibungkus bahasa ilmiah, tetapi dengan bukti riset yang masih terbatas atau bahkan belum jelas manfaatnya pada manusia.
“Saya melihat banyak klaim besar, tapi sainsnya sering kali belum cukup kuat,” kata Gary LeBlanc, analis riset longevity yang mendampingi saya. Senada, Dr. Edward Greaney, dokter penyakit dalam di New York, mengatakan pasiennya hampir setiap hari bertanya soal tren viral yang mereka lihat di media sosial.
Di tengah hiruk-pikuk teknologi mahal dan pil ajaib, justru momen paling membekas datang dari hal sederhana: makanan asli. Chef Johanna Hellrigl, yang bertanggung jawab atas sajian konferensi, menyuguhkan makanan berbasis bahan segar, minim proses, ramah lingkungan dan rasanya luar biasa. Tanpa suplemen, tanpa klaim berlebihan, tubuh terasa jauh lebih bugar.
Di sudut lain konferensi, peserta terlihat menikmati yoga, meditasi, latihan pernapasan, berjalan kaki, tertawa, dan berinteraksi. Semua itu adalah praktik yang telah digunakan manusia selama ratusan bahkan ribuan tahun untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
Pesan ini selaras dengan apa yang selama ini disampaikan para peneliti “blue zones” wilayah di dunia dengan angka harapan hidup tertinggi. Polanya konsisten: makan sederhana berbasis tanaman, bergerak setiap hari, tidur cukup, mengelola stres, dan memiliki hubungan sosial yang kuat.
Di balik gemerlap industri longevity bernilai miliaran dolar, konferensi ini justru mengingatkan bahwa kunci hidup panjang dan sehat mungkin sudah lama kita tahu. Bukan di pil mahal atau mesin canggih, melainkan pada kebiasaan sehari-hari yang konsisten dan berkelanjutan.














