JAKARTA, Cobisnis.com – Pasar saham Amerika Serikat menguat tajam pada Rabu setelah Presiden Donald Trump melunakkan nada bicaranya terkait Greenland dan menarik kembali ancaman tarif impor terhadap sejumlah negara Eropa. Reli ini terjadi setelah sehari sebelumnya pasar sempat tertekan akibat kekhawatiran investor terhadap konflik diplomatik AS–Eropa.
Indeks saham bangkit setelah Trump menyatakan tidak akan menggunakan “kekuatan dan tekanan berlebihan” untuk memperoleh Greenland, meskipun ia tetap menegaskan minatnya terhadap wilayah Denmark tersebut. Sentimen pasar semakin membaik ketika Trump mengunggah pernyataan di media sosial bahwa ia menggelar pertemuan produktif dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, serta memastikan tarif impor yang sebelumnya direncanakan berlaku 1 Februari terhadap negara-negara Eropa tidak jadi diterapkan.
Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average melonjak 589 poin atau 1,21%, berbalik arah setelah sehari sebelumnya anjlok 871 poin. Indeks S&P 500 naik 1,16% dan mencatatkan hari terbaik sejak akhir November, sementara Nasdaq menguat 1,18% dan menjadi performa terbaiknya dalam lebih dari sebulan. S&P 500 kini hanya berjarak sekitar 1,6% dari rekor tertingginya.
“Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif dengan Sekjen NATO Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kerja untuk kesepakatan masa depan terkait Greenland dan bahkan seluruh kawasan Arktik,” tulis Trump di Truth Social.
Perubahan sikap Trump langsung disambut positif oleh pasar. S&P 500 sempat melonjak hingga 1,67% pada puncak perdagangan sore sebelum memangkas sebagian penguatannya. Meski demikian, analis menilai banyak pelaku pasar memang sudah memperkirakan Trump akan melunak. Di Wall Street, fenomena ini dikenal dengan istilah TACO (Trump Always Chickens Out).
Sebelumnya, ketegangan dengan Eropa sempat memicu kembali strategi Sell America, di mana investor menjual saham, obligasi, dan dolar AS secara bersamaan. Pada Selasa, saham AS mencatatkan penurunan terburuk sejak Oktober, sementara dolar mengalami hari terburuk sejak Agustus.
Pasar obligasi juga menjadi sorotan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 dan 30 tahun sempat naik ke level tertinggi sejak September, meningkatkan kekhawatiran akan naiknya biaya pinjaman bagi pemerintah, bisnis, dan konsumen. Namun, setelah pernyataan Trump yang lebih bersahabat, obligasi AS kembali diburu dan imbal hasil pun turun.
Analis menilai meskipun volatilitas mereda, ketidakpastian kebijakan tetap membayangi. Sejumlah pihak bahkan menyebut pendekatan Trump lebih tepat disebut TATA (Trump Always Tries Again), karena meski sering mundur sementara untuk menenangkan pasar, ia kerap kembali mengejar tujuan awalnya.
Bagi investor global, meredanya ketegangan Greenland dan tarif ini setidaknya menghilangkan risiko jangka pendek. Namun, sifat kebijakan AS yang dinilai tak terduga membuat potensi volatilitas tetap ada ke depan.














