JAKARTA, Cobisnis.com – Sebuah kontroversi mencuat dalam gelaran AI Impact Summit di New Delhi setelah seorang profesor mengklaim bahwa robot anjing yang dipamerkan di stan universitasnya merupakan hasil pengembangan internal kampus. Belakangan diketahui, robot tersebut merupakan produk komersial buatan perusahaan rintisan asal China, Unitree.
Robot berwarna perak itu dipamerkan di stan Galgotias University dalam ajang kecerdasan buatan bergengsi tersebut. Dalam wawancara televisi pada Selasa, Profesor Neha Singh memperkenalkan robot yang diberi nama Orion itu kepada reporter dan menyebutnya sebagai hasil karya pusat unggulan universitas.
“Anda harus bertemu dengan Orion,” ujar Singh saat robot tersebut melakukan sejumlah atraksi seperti melambai ke arah kamera dan berdiri dengan dua kaki belakangnya.
“Ini telah dikembangkan oleh pusat unggulan (centres of excellence) di Galgotias University,” katanya sambil menjelaskan komitmen kampus dalam investasi teknologi AI. Ia juga menambahkan, “Seperti yang Anda lihat, ia bisa mengambil berbagai bentuk dan ukuran… ia juga cukup nakal.”
Pernyataan tersebut segera memicu kritik di media sosial. Banyak pihak menilai klaim itu menyesatkan karena robot tersebut diketahui sebagai produk Unitree yang dipasarkan secara luas.
Menanggapi polemik yang berkembang, Galgotias University memberikan klarifikasi resmi melalui platform X. “Mari kita perjelas — Galgotias tidak membuat robodog ini, dan kami juga tidak pernah mengeklaimnya,” tulis pihak universitas.
Kampus menjelaskan bahwa robot Unitree tersebut baru diakuisisi dan digunakan sebagai sarana pembelajaran. “Mahasiswa kami sedang bereksperimen dengannya, menguji batas kemampuannya,” demikian penjelasan resmi tersebut. Universitas juga menegaskan bahwa meskipun mereka tidak memproduksi robot tersebut, mereka tengah membangun kapasitas akademik agar mahasiswa mampu merancang dan memproduksi teknologi serupa di masa depan.
Profesor Singh kemudian menyampaikan klarifikasi kepada wartawan pada Rabu. “Hal-hal mungkin tidak tersampaikan dengan jelas. Saya tidak mengomunikasikannya dengan benar,” ujarnya.
Salah satu mahasiswa Galgotias, Vaidik Mishra, menilai persoalan ini sebagai kesalahpahaman yang diperbesar. “Kami sangat berharap KTT ini akan memberi kami platform untuk membicarakan start-up kami. Namun sekarang semuanya justru tentang kami yang berbohong soal robot, padahal itu tidak benar. Itu hanya salah paham,” katanya.
Insiden ini juga dimanfaatkan oleh Partai Kongres, oposisi pemerintah India, untuk mengkritik Perdana Menteri Narendra Modi yang menjadi tuan rumah KTT tersebut. Melalui akun X, partai itu menulis bahwa pemerintah telah “membuat India menjadi bahan tertawaan global dalam hal AI” dan menyebut kejadian tersebut sebagai sesuatu yang “sangat tidak tahu malu.”
Sementara itu, jurnalis Tapas Bhattachary yang melakukan wawancara awal mengimbau publik agar tidak menggeneralisasi insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa satu kasus tidak seharusnya menghapus kerja keras banyak inovator muda India yang turut berpartisipasi dalam acara tersebut.













