JAKARTA, Cobisnis.com – Perseteruan antara mantan anggota DPR AS dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, dengan Presiden Donald Trump kini ikut membentuk dinamika persaingan politik untuk mengisi kursi yang ditinggalkannya. Sejumlah kandidat yang maju dalam pemilihan pendahuluan di Distrik ke-14 Georgia berusaha menempatkan diri di antara loyalitas kepada Trump dan sikap terhadap warisan politik Greene.
Salah satu kandidat adalah Jim Tully, mantan staf Greene, yang mengumumkan pencalonannya tak lama setelah Greene menyatakan mundur pada November lalu. Dalam wawancara radio konservatif lokal, Tully menyebut kepergian Greene meninggalkan “kekosongan besar” di distrik tersebut dan mendorongnya maju agar pemilih memiliki harapan baru.
“Saya tidak bisa membiarkan keluarga-keluarga di distrik ini bingung tentang apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Tully.
Namun, kandidat lain lebih terbuka mengkritik Greene. James Marty Brown, mantan petugas pemadam kebakaran dan paramedis, menilai pendekatan politik Greene justru memecah belah. Ia menggambarkan Greene sebagai sosok yang terlalu fokus pada sensasi dibandingkan gambaran besar persoalan. Mereka yang telah lama aktif di politik lokal cenderung berhati-hati, menjaga keseimbangan antara menghormati Greene dan menunjukkan kesetiaan pada Trump. Sementara itu, para pendatang baru lebih berani melontarkan kritik langsung terhadap mantan anggota kongres tersebut.
Dari 16 kandidat Republik yang maju dalam pemilihan pendahuluan pada 10 Maret. Hampir semua mengklaim akan menjadi sekutu terbaik Trump di tingkat lokal. Lebih dari separuh mengaku sering mendengar keluhan pemilih tentang Greene, terutama terkait pengunduran dirinya di tengah masa jabatan ketiga.
David Guldenschuh, pengacara sekaligus pembawa acara radio konservatif di Georgia, menilai hal ini tak terlepas dari karakter Distrik ke-14 yang sangat pro-Trump. Menurutnya, para kandidat berusaha “saling mengungguli” dalam menunjukkan loyalitas kepada presiden.
Trump sendiri telah memberikan dukungan kepada Clay Fuller, mantan jaksa wilayah yang mundur dari jabatannya untuk maju dalam pemilihan khusus. Fuller menegaskan kesiapannya mendukung Trump, bahkan ketika ada perbedaan pandangan.
Di sisi lain, Greene menegaskan melalui media sosial bahwa ia tidak akan memberikan dukungan kepada kandidat mana pun sebagai penggantinya.
Strategi Berbeda Para Kandidat
Sebagai mantan perwakilan senior Greene di distrik, Tully menekankan kedekatannya dengan masyarakat. Ia mengakui bahwa sebagian pemilih merasa kecewa dan marah atas pengunduran diri Greene, sehingga membutuhkan figur yang siap mendengar dan bertindak.
Brian Stover, mantan komisaris daerah, memilih pendekatan yang lebih lunak. Ia mengatakan menghormati kontribusi Greene, namun mengaku lebih memilih diplomasi dan negosiasi dibanding gaya politik yang konfrontatif. Stover juga menyatakan akan menyelesaikan perbedaan dengan Trump secara tertutup.
Sementara itu, mantan senator negara bagian Colton Moore menyebut kepergian Greene sebagai peluang untuk memulai babak baru dengan fokus pada persatuan di belakang Trump. Meski menghargai peran Greene dalam mengangkat isu akuntabilitas, Moore menegaskan dirinya tidak berniat menjadi “tiruan” siapa pun.
Pendatang Baru Lebih Kritis
Para kandidat pendatang baru cenderung lebih keras mengkritik Greene. Star Black, mantan pegawai Badan Manajemen Darurat Federal, menilai Greene sangat polarizing dan lebih pandai menarik perhatian ketimbang menawarkan solusi konkret.
Meg Strickland, satu-satunya kandidat Republik yang secara terbuka mengkritik Trump, mengatakan banyak pemilih di wilayah pinggiran Atlanta sudah lama ingin move on dari Greene. Ia menilai gaya politik yang terlalu konfrontatif justru menghambat dialog dan solusi bersama.
Beberapa kandidat lain juga menyoroti pengunduran diri mendadak Greene dari Kongres. Mereka menyebut langkah itu meninggalkan kesan buruk bagi pemilih yang sebelumnya memberikan dukungan penuh.
Meski demikian, Guldenschuh menilai menyerang Greene bukanlah strategi yang tepat. Menurutnya, banyak pemilih di distrik tersebut masih menyukai Greene dan berharap konflik antara dirinya dan Trump bisa diselesaikan dengan baik.
“Saya pikir para kandidat seharusnya bangga pernah diwakili oleh Marjorie Taylor Greene selama ini,” ujarnya.













