JAKARTA, Cobisnis.com – Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu mengakui bahwa ribuan warga Iran tewas selama lebih dari dua pekan aksi protes anti-pemerintah. Namun, ia menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang disebutnya sebagai “penjahat” karena “secara terbuka mendorong” para demonstran dengan janji dukungan militer dari AS.
Dalam pidato nasional yang dimuat di situs resminya, Khamenei mengatakan Trump bertanggung jawab atas “korban jiwa dan kerusakan” yang terjadi selama gelombang protes yang pecah sejak akhir Desember, yang awalnya dipicu oleh kemarahan publik terhadap kondisi ekonomi yang memburuk.
Khamenei yang berusia 86 tahun itu tidak menyinggung tuduhan penggunaan kekerasan brutal oleh aparat keamanan Iran dalam menekan demonstrasi. Saksi mata dan kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa pasukan pemerintah menembaki para demonstran dari jalanan maupun atap bangunan. Lembaga berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut lebih dari 3.000 orang tewas dalam kerusuhan tersebut, meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh CNN.
Seorang demonstran di Teheran mengatakan bahwa warga turun ke jalan tanpa senjata, sementara pasukan keamanan menembaki mereka dan drone militer terbang di atas kepala. “Mereka mengarahkan laser dan menembak orang ke wajah,” ujar saksi tersebut secara anonim. “Mereka membantai orang-orang… anak-anak kami yang paling berani.”
Dalam pidatonya, Khamenei menyebut para “perusuh” terbagi dalam dua kelompok: mereka yang didukung, didanai, dan dilatih oleh AS serta Israel, dan para pemuda yang menurutnya “naif dan dimanipulasi.” Ia menuduh kelompok ini merusak fasilitas listrik, masjid, institusi pendidikan, bank, fasilitas medis, dan toko bahan makanan.
Pemerintah Iran selama ini kerap menuding adanya campur tangan asing dalam setiap gelombang protes, tanpa menyertakan bukti rinci. “Dengan menyakiti rakyat, mereka membunuh beberapa ribu orang,” kata Khamenei.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah angka ribuan korban tewas, dengan menyebut jumlahnya hanya ratusan dan menuding adanya “kampanye disinformasi.”
Trump merespons keras pernyataan Khamenei dengan menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran. Ia menyebut Khamenei sebagai “orang sakit” yang harus “berhenti membunuh rakyatnya.” Dalam wawancara dengan Politico, Trump menuding pemimpin Iran bertanggung jawab atas “kehancuran total negara” dan penggunaan kekerasan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di tengah situasi tersebut, Iran juga memutus akses internet secara luas sejak 8 Januari. Pemantau siber NetBlocks melaporkan adanya sedikit peningkatan konektivitas, namun secara keseluruhan masih sekitar 2% dari kondisi normal. Media semi-resmi Iran melaporkan bahwa akses internet telah dipulihkan untuk sebagian pelanggan dengan alasan keamanan nasional.
Khamenei menegaskan bahwa pihaknya akan menindak para peserta “kerusuhan,” meski tidak merinci bentuk hukuman. HRANA menyebut lebih dari 24.000 demonstran telah ditangkap. Kekhawatiran meningkat setelah jaksa Teheran menyatakan bahwa sebagian demonstran berpotensi menghadapi hukuman mati, meski pemerintah Iran kemudian membantah rencana eksekusi massal.













