Metapos.id, Jakarta – Pemerintah Iran mengumumkan masa transisi kepemimpinan menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei. Untuk sementara, kewenangan tertinggi negara diawasi oleh Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, serta seorang anggota Dewan Garda.
Sesuai konstitusi Iran, pengganti Khamenei harus dipilih oleh Majelis Ahli Kepemimpinan—lembaga beranggotakan 88 ulama yang dipilih setiap delapan tahun. Namun, hanya kandidat yang disetujui sistem Republik Islam yang dapat maju, sehingga mayoritas anggotanya dikenal berasal dari kalangan garis keras.
Konstitusi juga mewajibkan pemilihan dilakukan secepat mungkin. Pada 1989, Khamenei ditunjuk pada hari yang sama ketika pendahulunya, Ruhollah Khomeini, wafat. Namun kondisi saat ini jauh lebih kompleks, mengingat Iran tengah menghadapi serangan dari Amerika Serikat dan Israel, yang menyulitkan pengumpulan anggota majelis secara cepat karena alasan keamanan.
Suksesi yang Sudah Dipersiapkan
Menurut berbagai laporan, elite politik dan militer Iran telah lama mengantisipasi skenario ini, terutama setelah konflik singkat selama 12 hari pada Juni 2025. Ketika itu, sejumlah ilmuwan nuklir dan komandan tinggi tewas dalam serangan Israel, memperjelas bahwa Khamenei juga menjadi target.
Media internasional melaporkan bahwa sebelum wafat, Khamenei telah mengidentifikasi beberapa ulama senior sebagai kandidat penerus. Nama putranya, Mojtaba Khamenei, juga kerap disebut dalam spekulasi, meskipun belum ada konfirmasi resmi.
Serangan terbaru pada 28 Februari 2026 juga dilaporkan menewaskan Panglima IRGC Mohammad Pakpour serta pejabat tinggi keamanan lainnya. Struktur kekuasaan Iran kini dinilai para analis berada dalam “mode bertahan hidup”.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran akan menggunakan seluruh kapasitas pertahanan berdasarkan hak membela diri untuk menjaga kedaulatan negara.
Risiko Konflik Regional
Sejumlah pengamat menilai situasi ini sebagai momen krusial bagi kelangsungan Republik Islam. Ellie Geranmayeh dari European Council on Foreign Relations menyebut kondisi saat ini sebagai “momen eksistensial” bagi Iran.
Sanam Vakil dari Chatham House menilai Iran mungkin akan memperluas konflik ke kawasan sebagai strategi bertahan hidup. Sementara Danny Citrinowicz dari Institute for National Security Studies memperingatkan bahwa jika asumsi AS dan Israel tentang melemahnya rezim Iran keliru, konsekuensinya bisa sangat serius.
Kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan—yang dikenal sebagai Poros Perlawanan—berpotensi ikut terlibat, meningkatkan risiko perang di banyak front sekaligus.
Awal Perang Panjang?
Analis memperingatkan bahwa konflik ini bisa menjadi awal perang berkepanjangan di Timur Tengah. Jalur diplomatik dinilai semakin sempit, meskipun komunitas internasional didesak untuk mendorong Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan.
Kini perhatian dunia tertuju pada siapa yang akan menggantikan Khamenei. Apakah suksesi ini akan membawa stabilitas baru, atau justru membuka babak konfrontasi yang lebih luas bagi Iran dan kawasan?













