JAKARTA, Cobisnis.com – Komisaris PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Andrew Phillip Starkey, menambah kepemilikan saham perusahaan melalui dua transaksi yang dilakukan pada 9 dan 12 Februari 2026. Aksi korporasi ini menyedot perhatian pelaku pasar karena dilakukan saat harga saham tengah menguat.
Pada 9 Februari 2026, Andrew membeli 150.000 saham MDKA di harga Rp 3.060 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 459 juta.
Di hari yang sama, saham MDKA diperdagangkan dalam rentang Rp 2.900 hingga Rp 3.070 per saham. Penutupan berada di level Rp 3.040, menempatkan harga beli Andrew dekat titik tertinggi harian.
Pembelian kedua dilakukan pada 12 Februari 2026 dengan volume lebih besar. Ia menyerap 300.000 saham di harga Rp 3.113 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 933,9 juta.
Pada tanggal tersebut, saham MDKA bergerak di kisaran Rp 3.180 hingga Rp 3.280 per saham. Penutupan berada di Rp 3.190, sehingga harga beli Andrew tergolong di bawah harga pasar saat itu.
Andrew menyatakan tujuan transaksi tersebut untuk investasi. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kepercayaan orang dalam terhadap prospek jangka panjang perusahaan tambang tersebut.
Setelah transaksi selesai, kepemilikan saham Andrew meningkat menjadi 3,73 juta saham. Jumlah itu setara dengan 0,015 persen hak suara di perusahaan.
Sebelumnya, ia memegang sekitar 3,28 juta saham atau 0,014 persen hak suara. Kenaikan kepemilikan ini menunjukkan komitmen yang semakin besar terhadap perusahaan.
Pada Jumat, 13 Februari 2026, saham MDKA ditutup di level Rp 3.220 per saham. Harga tersebut naik 0,94 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham MDKA tercatat menguat 11,03 persen. Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif terhadap sektor pertambangan logam di tengah permintaan global yang tetap kuat.
Aksi pembelian oleh komisaris kerap dibaca pasar sebagai indikator kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Dalam konteks pasar modal Indonesia, langkah seperti ini sering memicu minat investor ritel untuk ikut mencermati pergerakan saham terkait.
Di tengah volatilitas ekonomi global dan dinamika harga komoditas, langkah investasi orang dalam memberi sinyal penting tentang persepsi nilai perusahaan. Hal ini sekaligus memperlihatkan bagaimana sektor tambang masih menjadi tulang punggung ekonomi berbasis sumber daya.













